Wahyu 3:8

“Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman- Ku dan engkau tidak menyangkal nama- Ku.”

Apabila kita ingin melihat Tuhan membuka pintu-pintu mujizat bagi hidup kita maka syarat utamanya adalah rendah hati atau berharap hanya pada Tuhan Yesus.

Bukankah orang yang rendah hati adalah orang yang berani mengakui bahwa kekuatannya tidak seberapa, ia membutuhkan firman Tuhan sebagai penuntun langkah hidupnya, ia menyadari bahwa semua yang ada dan semua yang dimilikinya adalah semata-mata karena anugerah Tuhan!

Tahukah Anda bahwa rendah hati adalah karakter yang paling mulia dan paling penting? Alkitab menasehati agar kita mengambil teladan hidup dari Yesus Kristus, Tuhan kita.

Tuhan Yesus memilih untuk tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Alkitab menjelaskan: Itulah sebabnya (atas kerendahan hati-Nya itulah) Allah sangat meninggikan Yesus dan memberikan kepada-Nya nama di atas segala nama, artinya: di dalam nama Tuhan Yesus terkandung kuasa yang tidak tertandingi oleh kuasa apa pun! Alkitab menjelaskan: dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Dibaca: Filipi 2:5-11)

Itulah sebabnya Tuhan Yesus dapat berkata: “Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” (Wahyu 3:7)

Hal ini adalah sebuah pernyataan tentang kuasa Tuhan Yesus, pemegang kunci Daud, Yang Kudus dan Yang Benar. Apakah jalan menuju kuasa dan kehormatan itu? Namanya: kerendahan hati!

Tuhan Yesus sendiri pernah berkata:
Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”(Matius 23:12)

Apabila kita memilih untuk rendah hati (aktif), seperti Tuhan Yesus maka kita akhirnya ditinggikan (pasif). Kombinasi ini mempunyai implikasi menarik yang tidak selalu kita pikirkan. Sebenarnya apabila kita ditinggikan, kita pasti rendah hati. Mengapa? Jika kita tidak rendah hati, Tuhan tidak akan meninggikan kita.

Cobalah pikirkan tentang hal ini, Tuhan tidak akan membiarkan seseorang ditinggikan sebagaimana dia sekarang tanpa lebih dahulu melewati ujian kerendahan hati. Jika Anda memilih untuk meninggikan diri (aktif), maka cepat atau lambat, Anda akan direndahkan (pasif).

Ada bahaya yang sangat besar apabila seseorang memilih untuk meninggikan diri; dia akan berada dalam kesulitan besar. Sebab pada akhirnya Tuhan turun tangan untuk merendahkan mereka. Ketika Tuhan turun tangan untuk merendahkan orang yang tinggi hati, percayalah, semuanya sudah terlalu terlambat!

Penting untuk mengerti bahwa kerendahan hati adalah buah roh. Jika kita tetap dipenuhi dengan Roh Kudus, maka kita pasti rendah hati.

Efesus 5:18
Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,

Saya percaya bahwa apabila kita ingin tetap dipenuhi Roh, kita perlu diisi ulang dengan Roh Kudus setiap hari. Saya mendasari sudut pandang saya pada Efesus 5:18, di mana dipenuhi Roh Kudus dibandingkan dengan menjadi mabuk.

1 Petrus 5:5
“Demikian jugalah kamu, hai orang- orang muda, tunduklah kepada orang- orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab:”Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Orang Kristen mana pun pasti tidak menginginkan Tuhan menentang atau menolak dirinya. Jadi, kita pun dengan segala cara harus menghindari keangkuhan dengan berusaha mengembangkan buah Roh kerendahan hati.

1. Kerendahan hati dapat mengurangi stress.

Rendah hati adalah sikap yang membawa ketenangan jiwa (Matius 11:28-29). Jiwa yang tenang adalah jiwa yang kuat, jiwa yang sehat (Amsal 14:30; 15:13).

Rendah hati membuat orang tidak terombang-ambing oleh pikiran, perasaan dan kehendak yang negatif. Pada dasarnya orang rendah hati dapat tersinggung, tetapi kekuatan kerendahan hati akan membebaskannya dari rasa tersinggung dan terhina. Sikap rendah hati adalah pilihan bijak yang membuat diri sembuh dari keterpurukan.

Jika saya rendah hati, saya akan menyadari bahwa saya belum mengerti semuanya dan saya belum mencapai semuanya. Saya tidak mempunyai solusi atau jawaban untuk semua masalah. Saya berusaha menyelesaikan tugas dan tanggung jawab saya sebatas kemampuan saya, selanjutnya hal-hal yang tidak bisa saya selesaikan itulah bagian yang akan Tuhan selesaikan.

Yesaya 26:12 Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami.

Jika saya rendah hati, saya tidak akan berpikir bahwa jika bukan saya yang mengerjakan maka semua menjadi tidak beres.
Saya mengerti batas-batas kemampuan saya.

Rendah hati juga meneguhkan penguasaan diri. Di sini orang yang rendah hati mencegah membalas kejahatan dengan kejahatan (Amsal 12:16; Matius 7:12) karena di dalam dirinya ada kekuatan untuk mengalahkan godaan kejahatan, sehingga ia menikmati kebaikan semata (Matius 7:12).

Jika saya rendah hati, saya bisa menerima kenyataan dengan apa yang seharusnya saya inginkan. Saya akan mengerti bahwa di sepanjang hidup ini selalu ada jarak antara kenyataan hidup dan apa yang seharusnya terjadi. Kerendahan hati bisa menerima kenyataan hidup dan memilih untuk tetap berbahagia. Mengapa? Karena Anda mau belajar bergantung kepada Tuhan, Anda percaya kepada Kasih dan Kebaikan Tuhan.

Anda mungkin tidak mendapatkan pekerjaan yang terbaik sekarang ini, pernikahan Anda tidak sempurna, tetapi Anda bisa menerimanya itulah arti kerendahan hati.

Saya terkesan sekali membaca kisah seorang guru, bernama Frank Slazak, yang memiliki impian menjadi seorang astronot. Ia ingin terbang ke luar angkasa. Ia berhasil lolos seleksi 100 besar dari 43.000 orang pelamar. Ujian penilaian terakhir dilakukan lewat uji kalustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Ia begitu berharap bisa lulus. Ia bertekun di dalam doa.

Lalu tibalah berita yang menghancurkan hatinya.
NASA memilih Christina McAufliffe. Frank Slazak kalah.
Ia mengalami depresi. Rasa percaya dirinya lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaan dirinya. Frank mempertanyakan semuanya itu. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan begitu kejam?

Ia berpaling pada ayahnya.
Ayahnya berkata kepadanya: “Semua terjadi karena suatu alasan”

Selasa, 28 Januari 1986, Frank berkumpul bersama teman-temannya untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, melihat hal itu menantang impiannya untuk terakhir kalinya. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?

Tujuh puluh detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaannya dan menghapus semua keraguannya saat Challanger meledak dan menewaskan semua penumpang, lalu ia teringat kata-kata ayahnya, “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Frank berkata, Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Jika saya rendah hati, saya bisa menghindari stress yang berkepanjangan sebab kita mau bergantung dan percaya kepada Tuhan. Jika saya bisa mengurangi stress hal ini berarti saya bisa meningkatkan kebahagiaan hidup saya.

2. Kerendahan hati dapat meningkatkan kualitas hubungan

Ada berapa banyak dari Anda yang suka berada di tengah-tengah orang yang congkak, arogan dan egois? Anda tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang mudah tersinggung, senang menghakimi, Anda dibuat menjadi serba salah, mereka senang memotong cerita Anda dan memberikan cerita mereka yang lebih bagus. Saya yakin orang yang congkak, egois ataupun arogan akan sulit membangun hubungan dengan orang lain.

Sifat-sifat tersebut adalah sifat yang merusak hubungan baik dengan orang baik. Orang yang berpusat kepada diri sendiri adalah orang yang tidak pernah berbahagia. Orang yang tidak berbahagia mereka cenderung membuat orang lain menjadi tidak bahagia. Mereka menyebarkan kemurungan, kesusahan dan kegelisahan di hati orang lain.

Siapakah di antara Anda yang suka bergaul dekat dengan orang-orang yang rendah hati? Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menimbulkan kesan seolah-olah mereka lebih hebat. Saat Anda bercerita, mereka tidak selalu memotong dan memberikan cerita lain yang lebih bagus lagi. Mereka begitu tertarik dan peduli dengan Anda. Anda merasa dibesarkan hatinya dan semakin bertambah semangatnya.

Ketika kita rendah hati, bukan berarti kita menjadi orang yang tidak percaya diri, takut salah, takut disalahkan. Orang yang rendah hati, ia selalu tertarik dan peduli dengan orang lain, ia selalu berusaha membuat orang lain itu menjadi orang yang penting.

Rendah hati berhubungan dengan kebaikan dan sifat murah hati (Amsal 11:16-17) yang merupakan sikap yang terhormat. Orang yang rendah hati akan menggunakan pikiran, sikap, kata dan perbuatannya yang menyebabkan ia disukai banyak orang. Hubungan Anda akan menjadi lebih baik. Bukankah relasi selalu berkaitan erat dengan rejeki (Yesaya 60:1-5).
Jika Anda memiliki hubungan yang baik, maka kebahagiaan Anda pun akan meningkat.

3. Kerendahan hati itu mengaktifkan kuasa Allah untuk melakukan keajaiban dalam hidup kita.

Alkitab berkata, … “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6)

Tuhan mengasihi orang yang rendah hati. Tuhan mengurapi dan memberikan kuasa kepada orang yang rendah hati di hadapan-Nya.
Orang yang rendah hati adalah orang yang berani mengakui ketidakberdayaannya dan memohon Tuhan menolongnya.
Orang yang rendah hati berani mengakui kelemahannya, di sanalah Tuhan memberinya kekuatan dan kuasa.

Orang rendah hati akan mudah taat akan Firman dan merendahkan diri kepada otoritas, bersikap bijak, berakal budi yang menjadikan perkataannya menyenangkan serta membawa berkat (Amsal 16:19-24).

Ternyata kerendahan hati menempatkan seseorang pada tempat yang terhormat, karena “kerendahan hati mendahului kehormatan” (Amsal 18:12b).

Bartimeus, seorang pengemis buta yang miskin di kota Yerikho. Dia adalah salah seorang yang bukan hanya miskin secara materi tetapi juga miskin di hadapan Tuhan. Ketika Tuhan melawat Yerikho, Bartimeus berteriak dengan suara nyaring, Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku! (Lukas 18:38-39). Ia berteriak minta Tuhan menolong dia yang tidak berdaya, ia memohon Tuhan memberinya belas kasihan. Inilah arti miskin di hadapan Allah, kerendahan hatinya mengaktifkan kuasa Allah.

Lalu Yesus menghentikan perjalanannya dan bertanya kepada Bartimeus, Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu? jawab orang itu: Tuhan, supaya aku dapat melihat! Lalu kata Yesus kepadanya: Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau! dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. (Lukas 18:40-43).

Bartimeus, sebagai seorang pengemis, ia seharusnya meminta uang recehan saat Tuhan bertanya kepadanya. Namun ia seorang yang cerdas, ia tidak meminta uang recehan tetapi yang dia minta adalah supaya aku dapat melihat agar aku dapat mengikuti Engkau kemana pun Engkau pergi, agar aku dapat mengenal jalan-jalan-Mu ya Tuhan. Bartimues meminta sesuatu yang jauh lebih penting dari sekedar uang recehan. Tuhan mengubah hidupnya dan masa depannya.

Tuhan Yesus memberkati