Setiap kali kita mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek maka kata-kata ucapannya adalah berupa doa dan harapan supaya kita semuanya bisa menikmati hidup yang “sehat dan makmur,” dalam segala hal.

Alkitab mengajarkan kepada kita bagaimana menikmati hidup yang sehat dan makmur di dalam Tuhan, sebagaimana surat yang ditulis oleh Rasul Yohanes.

3 Yohanes 1:2

Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik- baik (makmur) dan sehat- sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik- baik saja.

Alkitab menjelaskan bahwa Kemakmuran dan Kesehatan ini berkaitan erat dengan jiwa, di sini artinya bahwa jiwa kita adalah wadah bagi kemakmuran dan kesehatan!

Seberapa besar kemakmuran dan kesehatan bisa dilimpahkan oleh Tuhan dan semuanya itu bisa dinikmati oleh kita tergantung dari kapasitas, daya tampung atau wadahnya adalah jiwa kita!

Saya akan membahas tentang Jiwa yang makmur dan sehat adalah jiwa yang mengembangkan buah Roh kemurahan dan kebaikan!
Galatia 5:22, “Tetapi buah Roh ialah: … kemurahan, kebaikan…”

Buah Roh kemurahan dapat didefinisikan sebagai keramahan ilahi. Menurut W.E. vine, seorang cendekiawan Yunani pernah menjelaskan bahwa KEMURAHAN atau keramahan ilahi adalah suatu perbuatan baik yang dilakukan demi kepentingan orang lain.

Dengan kata lain, KEMURAHAN adalah apa yang orang lihat di dalam diri kita sebagai orang percaya kepada Tuhan Yesus. KEBAIKAN adalah apa yang dialami orang lain atas perbuatan baik kita sebagai orang percaya.

Jika kita tidak mempunyai kemurahan atau tidak ramah terhadap orang lain, maka kita akan sulit melakukan perbuatan baik kepada orang lain.

Kedua buah Roh ini, yaitu murah hati dan baik hati ini berkaitan erat satu sama lainnya. Tanpa kemurahan yang berasal dari kasih Allah di dalam diri kita maka tidak akan ada manisfestasi buah Roh yang bernama kebaikan.

Rasul Paulus: menjelaskan kaitan antara Keramahan dan Kebaikan. Pelayanan Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika merupakan contoh yang memperlihatkan bahwa Keramahan Ilahi mendahului Kebaikan. Keramahannya membuka pintu hati orang Tesalonika untuk menerima pemberitaan Injilnya.

1 Tesalonika 2:7-9

Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. 8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. 9 Sebab kamu masih ingat, saudara- saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.

Kemurahan hati atau keramahan ilahi yang diungkapkan dalam ayat 7 telah membuka pintu untuk penginjilan Rasul Paulus di Tesalonika sebagaimana diuraikan dalam ayat 9. Kemurahan atau Keramahan ilahi adalah satu-satunya kunci untuk membuka pintu hati setiap orang sehingga perbuatan baik atau pemberitaan Injil dapat menjadi berhasil.

TUHAN YESUS: Kemurahan Hati dan Kebaikan
YESUS sendiri berbicara tentang kedua buah Roh ini, namun Ia menggunakan istilah-istilah lain untuk mengungkapkannya:

Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Garam menggambarkan buah Roh Kemurahan atau Keramahan Ilahi, Garam kemurahan hati kita mengasinkan dunia.

Masyarakat kita kini pada umumnya bersikap kasar dan suka memaksa dan menuntut sehingga mencari orang yang benar-benar ramah atau murah hati menjadi sangat langka seperti mencari sebuah mata air di tengah padang gurun. Sepertinya hal garam, keramahan ilahi atau kemurahan hati orang percaya akan memberikan rasa sorgawi bagi dunia ini.

Terang menggambarkan buah Kebaikan.
Dalam Matius 5:16, Tuhan Yesus berkata yang dimaksud dengan terang adalah perbuatan baik yang dilakukan orang percaya.

Ia memerintahkan kita: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Bila rasa asin dari garam atau keramahan ilahi orang percaya dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya maka terang yang ada di dalam dirinya otomatis bercahaya melalui perbuatan-perbuatan baik yang dia lakukan.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kemurahan hati atau keramahan ilahi harus selalu mendahului setiap kebaikan dan perbuatan baik.

Matius  5:13

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Panggilan hidup kita sebagai orang percaya adalah menjadi garam dunia, namun jika garam itu menjadi tawar, jika kita tidak lagi memiliki kemurahan hati atau kehilangan sifat ramah maka Tuhan Yesus mengatakan bahwa sesungguhnya mereka sama sekali tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Oleh sebab itu derajat atau level kegunaan kita bagi Allah ditentukan oleh derajat atau level pertumbuhan buah Roh Kemurahan Hati atau Keramahan Ilahi dalam hidup kita karena orang percaya hanya bisa dipakai oleh Tuhan atau berguna bagi Tuhan sejauh mereka memiliki kemurahan hati atau keramahan ilahi kepada orang lain.

Filipi 2:14-15

Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut- sungut dan berbantah- bantahan, 15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak- anak Allah yang tidak bercela di tengah- tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang- bintang di dunia,

Menurut Rasul Paulus, jika orang-orang percaya suka bersungut-sungut, berbantah-bantahan dan mengeluh maka TERANG mereka tidak akan bercahaya.
Anda tidak bisa melakukan kebaikan apabila Anda suka bersungut-sunggut, berbantahan dan suka mengeluh.

Buah Roh Kemurahan Hati atau Keramahan ilahi patut dikembangkan dalam hidup kita jika kita mau “bercahaya seperti bintang-bintang di dunia.” (Filipi 2:15)

Jika musuh (iblis) berhasil mencuri atau merusak buah Roh Kemurahan dalam kehidupan orang percaya maka buah Roh Kebaikannya otomatis akan menjadi layu.

Yesus berkata: “Kamu adalah Garam dunia dan Terang dunia.”
Jika musuh bisa membuat kita tidak asin lagi, maka terang kita tidak akan bercahaya.

Jika terang kita tidak bercahaya, maka kita seumpama “lima gadis yang bodoh” yang kehilangan apa yang paling penting dan apa yang sangat diharapkan dalam hidupnya, yaitu mereka kehilangan kesempatan untuk menikmati pesta kawin oleh karena pintu telah tertutup bagi mereka!

Kegunaan utama dari buah Roh Kemurahan atau Keramahan ilahi adalah membuat orang percaya mampu menjadi GARAM dunia. Ada tiga fungsi atau tugas sebagai Garam dunia, sebagaimana sifat fisika dari garam.

1. Fungsi pertama dari buah Roh Kemurahan dapat kita bandingkan dengan sifat garam yang “memurnikan tanah.”

Garam dapat berfungsi sebagai PUPUK untuk menyuburkan tanah sehingga pohon-pohon yang ditanam mampu menghasilkan buah. Begitu pula kemurahan atau keramahan ilahi orang percaya dapat memupuk hati setiap orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus untuk menerima benih firman Tuhan, yang membawa keselamatan dan hidup yang kekal!

Titus 3:3-5
Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai- bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci. 4 Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih- Nya kepada manusia, 5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat- Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

Apabila seseorang yang belum percaya dapat merasakan kasih dan kemurahan Allah melalui hidup kita, orang yang percaya maka sesungguhnya tanah hatinya akan menjadi tanah yang subur untuk menerima benih firman Tuhan sehingga orang itu dapat diselamatkan dan menerima hidup yang kekal di dalam Kristus.

Orang percaya sebagai garam dan terang dunia merupakan ekspresi dari kemurahan dan kebaikan Allah bagi dunia.
Buah Roh Kemurahan dan Kebaikan dalam kehidupan anak-anak Tuhan pada dasarnya adalah wujud dari kepenuhan Kristus yang dinyatakan bagi dunia, sebab Yesus adalah Terang dunia!

1 Petrus 3:1-4
Demikian juga kamu, hai isteri- isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, 2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. 3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang- ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah- indah, 4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

Ayat 1 dan 2 menunjukkan bahwa “kelakuan” seseorang merupakan “perkataan” yang dikumandangkan melalui kehidupannya, sehingga orang-orang di sekitarnya dapat diselamatkan bukan hanya melalui pemberitaan firman Tuhan.

Orang-orang yang belum percaya akan dimenangkan kepada Tuhan melalui cara hidup orang percaya yang mereka lihat “saleh” dalam perkataan, pikiran dan perbuatan!

Bagaimana mungkin kita orang percaya bersikap kasar dan suka menuntut kemudian mengharap adanya tanggapan yang positif saat kita bersaksi kepada mereka?

Bukankah mustahil jika kita berusaha untuk memenangkan orang kepada Kristus, padahal kita sendiri bertingkah sangat buruk, kasar dan menyebalkan? Namun hal semacam ini seringkali terjadi dalam kenyataan hidup sehari-hari.

2. Fungsi kedua dari buah Roh Kemurahan dapat disamakan dengan sifat garam yang UNIVERSAL.

Dari restoran paling elit di sebuah kota besar sampai ke warung desa yang paling sederhana, sifat garam itu tidak berbeda. Rasanya sama saja di mana pun orang menggunakannya.

Sebagaimana garam yang tidak membedakan rumah-rumah makan, buah Roh Kemurahan atau Keramahan Ilahi tidak memilih dan membedakan orang. Sepahit apa pun sikap seseorang atau situasi suatu keadaan, kualitas dan rasa yang disungguhkan tetap sama!

Yakobus 2:9
Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.

Memandang bulu atau membeda-bedakan orang merupakan salah satu dosa yang sudah meluas di kalangan gereja atau Tubuh Kristus masa kini.

Banyak orang Kristen yang menunjukkan sikap bahwa tidak semua orang layak menikmati rasa asin dari garam, keramahan mereka, yang ada dalam diri mereka.

Mereka seperti sebuah bejana-bejana yang mengandung “garam dan cabe” terasa asin sedikit, teras pedas sedikit ~ kadang murah hati dan ramah, tetapi kadang bersikap kasar, suka menghakimi dan menyakiti dengan pedasnya. Ini adalah dosa, dan penyebab dari adanya dosa ini adalah karena buah Roh Kemurahan atau Keramahan ilahi belum dikembangkan dalam kehidupan pribadi orang Kristen.

Markus 9:50
Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.

Buah Roh ini juga membuat mereka mampu hidup dalam rukun dan damai dengan semua orang, karena buah Roh Kemurahan atau Keramahan Ilahi memberikan kemampuan untuk bersikap sama dengan siapa pun dan di mana pun mereka berada;

Tentu saja, akan selalu ada orang yang menentang dan memusuhi, tetapi hal itu tidak akan membuat kita menjadi pusing bilamana kita memiliki “rasa asin,” yaitu keramahan ilahi karena kita akan selalu rindu membangun kerukunan dan membawa damai sejahtera dalam situasi apa pun.

Sebagai orang Kristen, kita perlu menjaga dan memelihara “rasa asin,” dengan mengembangkan sifat ramah kepada orang lain, pertama-tama dalam hubungan kita dengan orang-orang yang belum percaya. Terkadang banyak orang Kristen bertindak terlalu ekstrem dalam usaha mereka menjauhkan diri dari dosa, yaitu bersikap tidak ramah kepada orang-orang berdosa. Padahal memisahkan diri dari dosa bukan berarti bersikap kasar kepada orang-orang dunia.

Bagaimana orang-orang dunia dapat diasinkan, atau menerima kasih dan kemurahan Allah, jika orang-orang Kristen yang ditetapkan Tuhan menjadi garam bersikap “tawar” atau tidak ramah setiap kali bertemu dengan mereka?
Bagaimana kita dapat membuat tanah hati orang-orang dunia menjadi lembut kepada Kristus jika kita bersikap kasar, keras dan tidak ramah kepada mereka?

Tuhan menghendaki agar kita sebagai orang percaya mengembangkan buah Roh Kemurahan atau Keramahan ilahi agar setiap orang yang Dia kirim ke tengah-tengah kita, mereka dapat pulang dalam keadaan sudah diselamatkan, dipenuhi Roh Kudus dan dilayani dengan hati yang penuh kasih dan kebaikan.

Kita pun perlu memelihara fungsi kita sebagai “garam yang mengasinkan” di tengah-tengah kehidupan keluarga kita, khususnya suami atau istri dan anak-anak kita.

Banyak orang Kristen tidak terlalu sulit untuk bersikap murah hati atau ramah kepada orang lain, namun sesampainya di pintu gerbang rumahnya sendiri, mereka langsung berubah menjadi sebuah monster yang kejam, kasar dan sedikit pun tidak peduli akan orang lain.

Kita harus mengerti dan sadar bahwa jika kita memperlakukan keluarga atau orang-orang di rumah dengan kurang sopan, tidak ada rasa hormat dan bersikap kasar namun kita bisa bersikap ramah dan sopan terhadap orang lain, maka kita sedang berbuat dosa!

Buah Roh Kemurahan atau Keramahan Ilahi akan membuat kita mampu bersikap lemah lembut dan manis kepada seisi rumah kita walaupun setiap hari harus menghadapi persoalan-persoalan kecil yang timbul karena hidup bersama.

Ingatlah bahwa Allah sangat peduli dan menaruh perhatian terhadap sikap kita dalam memperlakukan keluarga kita sendiri, yaitu orang tua, suami istri, dan anak-anak, dan keluarga besar.

1 Timotius 5:8
Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

Masalah kemurahan atau keramahan terhadap anggota keluarga sendiri demikian pentingnya, sehingga Tuhan memberikan petunjuk setidaknya lewat dua surat Rasul Paulus yang lain:

Efesus 5:28-29
Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri:Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,

Titus 2:4-5
dan dengan demikian mendidik perempuan- perempuan muda mengasihi suami dan anak- anaknya, 5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.

Buah Roh Kemurahan atau Keramahan Ilahi membuat para suami mampu bersikap ramah kepada istri mereka tanpa bergantung pada respon istri mereka; juga memberikan kemampuan kepada para istri untuk bersikap ramah kepada suami mereka tanpa tersandung oleh tindakan suami mereka. Buah Roh Kemurahan atau Keramahan Ilahi membuat para suami dan istri mampu bersikap sesuai dengan firman Allah tentang cara mereka harus memperlakukan satu sama lain.

3. Fungsi ketiga dari buah Roh Kemurahan atau keramahan ilahi dapat kita bandingkan dengan sifat garam yang anti kuman.

Seperti garam, buah Roh Kemurahan atau Keramahan Ilahi mengandung sifat-sifat anti kuman yang berguna untuk mencuci mulut.

Manifestasi buah Roh ini melalui mulut orang percaya, kuasa Tuhan akan menyucikan perkataan yang keluar dari mulutnya sehingga ia dapat berkata-kata yang baik untuk membangun sehingga mereka yang mendengarnya beroleh anugerah.

Efesus 4:29, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh anugerah.”

Orang percaya dapat mencapai level pertumbuhan dalam kehidupan rohaninya di mana tidak ada lagi kata-kata kotor (tidak suci, jahat), tetapi perkataan yang keluar dari mulutnya hanyalah perkataan yang penuh kasih karunia dan bersifat membangun apabila perkataannya “digarami” dengan keramahan ilahi.

Kolose 4:6
Hendaklah kata- katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

Begitu banyak orang Kristen yang suka asal bicara dan mengeluarkan perkataan kosong dari mulutnya oleh karena buah Roh Kemurahan atau Keramahan Ilahi tidak pernah dikembangkan dalam kehidupan pribadi mereka.

Manfaat dari buah Roh Keramahan Ilahi pada mulut orang percaya:

1. Perkataannya mampu meredakan amarah.

Amsal 15:1
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.

Ada begitu banyak peristiwa dalam hidup kita di mana jawaban yang lemah lembut dapat mencegah terrjadinya kesalahpahaman, perbantahan, dan pertengkaran yang penuh dengan perkataan yang menyakitkan hati.

Semua perpecahan, perselisihan, kepahitan hati dan perkelahian itu sebenarnya dapat dicegah andaikata “lidah kita telah digarami” dengan buah Roh Keramahan Ilahi.

2. Perkataannya tidak akan melukai orang lain.

Amsal 18:8
Perkataan pemfitnah seperti sedap- sedapan, yang masuk ke lubuk hati.

Seorang pemfitnah adalah orang yang “berbisik-bisik” membicarakan orang lain; dengan maksud secara rahasia mengedarkan isu-isu negatif dan merusak reputasi orang lain.

Dampak dari buah Roh Kemurahan atau sikap ramah terhadap orang lain maka ia dapat menjaga mulutnya sehingga perkataannya tidak akan melukai hati orang lain.

Kata-kata negatif dan tidak ramah tentu saja sangat menyakitkan orang-orang yang mendengarnya dan meninggalkan luka yang dalam, menimbulkan akar pahit dan kebencian mendalam di hati mereka.

Bagi kebanyakan orang tamparan secara fisik tidaklah sesakit ucapan-ucapan tajam, pedas dan menyakitkan sebab tamparan jasmani akan dapat berangsur-angsur lenyap, tetapi fitnah atau perkataan tidak benar yang merusak reputasi seseorang tidak akan mudah dilupakan.

Amsal 16:24
Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang- tulang.

Orang percaya yang perkataannya telah “digarami” dengan buah Roh Kemurahan atau Keramahan Ilahi akan mampu mengucapkan kata-kata yang menyenangkan dan menyehatkan daripada mengucapkan kata-kata yang menyakitkan sebab ia tahu bahwa “hidup dan mati” berada di bawah kuasa lidah (Amsal 18:21).

Semua orang dapat mengucapkan kata-kata yang menyenangkan apabila segala sesuatu dalam hidupnya berlangsung dengan baik, tetapi orang percaya yang telah mengembangkan buah Roh Kemurahan atau Keramahan Ilahi mampu mengucapkan perkataan yang menyenangkan sekali pun mereka sedang menghadapi pencobaan dan kesulitan hidup, karena memang demikianlah salah satu sifat dari Garam, yaitu mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan!

3. Perkataannya mampu menghentikan pertengkaran.

Iblis hanya memerlukan seorang pemfitnah untuk melontarkan suatu isu negatif maka fitnah dan gosip itu pun akan menyebar di antara orang percaya yang tidak waspada, dan api itu segera dipadamkan oleh sebuah hati yang penuh dengan kemurahan atau keramahan ilahi.

Amsal 26:20
Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran.

Api pertengkaran yang dilontarkan kepada seseorang yang benar-benar murah hati akan dipadamkan dalam sekejap tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk menjalar melalui kata-kata yang keluar dari mulutnya.