Matius 23:12,

“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Apabila kita memilih untuk rendah hati (aktif), kita akhirnya ditinggikan (pasif). Kombinasi ini mempunyai implikasi menarik yang tidak selalu kita pikirkan. Sebenarnya apabila kita ditinggikan, kita pasti rendah hati. Mengapa? Jika kita tidak rendah hati, Tuhan tidak akan meninggikan kita.

Cobalah pikirkan tentang hal ini, Tuhan tidak akan membiarkan seseorang ditinggikan sebagaimana dia sekarang tanpa lebih dahulu melewati ujian kerendahan hati.

Jika Anda memilih untuk meninggikan diri (aktif), maka cepat atau lambat, Anda akan direndahkan (pasif). Ada bahaya yang sangat besar apabila seseorang memilih untuk meninggikan diri; dia akan ada dalam kesulitan besar. Sebab pada akhirnya Tuhan turun tangan untuk merendahkan mereka. Ketika Ia berbuat ini, percayalah, semuanya sudah terlalu terlambat!

RENDAH HATI ADALAH BUAH ROH KUDUS:

Penting untuk mengerti bahwa kerendahan hati adalah buah Roh. Jika kita tetap dipenuhi dengan Roh Kudus, maka kita pasti rendah hati. Sebab salah satu buah Roh adalah lemah lembut (rendah hati).

Saya percaya bahwa apabila kita ingin tetap dipenuhi Roh, kita perlu diisi ulang dengan Roh Kudus setiap hari. Saya mendasari sudut pandang saya pada Efesus 5:18, di mana dipenuhi Roh Kudus dibandingkan dengan menjadi mabuk. Kita mengerti bahwa ketika seseorang menjadi mabuk, efek tersebut berlangsung hanya satu hari. Apabila seseorang ingin mabuk lagi besoknya, maka ia harus mengisi tubuhnya dengan alkohol lagi. Alkitab menyatakan bahwa dipenuhi dengan Roh sama seperi itu. Jika kita mau membangun sikap rendah hati maka kita harus dipenuhi oleh Roh Kudus setiap hari. Jika kita mau dipenuhi oleh Roh Kudus setiap hari maka kita harus meminta Tuhan memenuhi kita dengan Roh Kudus-Nya setiap pagi (Lukas 11:11-13).

Dalam 1 Petrus 5:5, Rasul Petrus mengajarkan kita untuk “rendahkanlah dirimu.” Ayat yang sama melanjutkan mengatakan, “Sebab Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Orang Kristen mana pun pasti tidak menginginkan Tuhan menentang atau menolak dirinya. Jadi, kita pun dengan segala cara harus menghindari keangkuhan.

ARTI KEANGKUHAN:

Keangkuhan didefinisikan sebagai pendapat yang tinggi atau jauh melebihi martabat, kepentingan, kebaikan, atau keunggulan diri sendiri, yang mungkin disimpan di dalam pikiran atau diperagakan dalam pembawaan, tingkah laku, dan sebagainya.

Keangkuhan selalu tampak mengintai

Andrew Murray menulis:
“Keangkuhan yang jahat merayap masuk hampir di mana-mana…
Keangkuhan adalah sebuah kehidupan tanpa kasih, tidak ada kepedulian terhadap kebutuhan orang lain, tidak bisa merasakan perasaan dan kelemahan orang lain, perkataan yang penuh penilaian dan ucapan yang tajam; nampaknya selalu tergesa-gesa dan tidak sabar untuk menunggu yang dimanifestasikan dalam bentuk kemarahan dan kejengkelan, kepahitan dan keterasingan; semuanya itu berakar dalam keangkuhan. Keangkuhan hanya mencari dan mementingkan dirinya sendiri.”

Di antara banyak persyaratan untuk menjadi pemimpin Kristen, dalam 1 Timotius 3:6, Rasul Paulus mengemukakan bahwa pemimpin tidak boleh orang yang baru bertobat. Mengapa? “Agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.” Keangkuhan dapat dan mudah sekali membutakan orang Kristen yang masih muda.

Orang yang kepadanya Tuhan sudah mempercayakan peran sebagai pemimpin biasanya sudah pernah berhadapan dengan keangkuhan. Mereka sudah berjuang dalam banyak pertempuran, dan mereka menang lebih banyak daripada kalah. Mereka mungkin masih memiliki bekas luka, tetapi mereka sudah lulus ujian.

PERANAN ROH KUDUS:

Bagaimana kita bisa mengenali tanda sebuah “Keangkuhan” yang menyelinap masuk ke dalam hati kita? Titik awal yang mutlak perlu adalah kita harus terus dipenuhi dengan ROH KUDUS. Pelayanan vital dari Roh Kudus di dalam kita adalah memginsafkan kita akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yohanes 16:8).

Salah satu hal yang saya pelajari untuk menumbuhkan kerendahan hati adalah dengan meminta kepada Tuhan secara khusus untuk menjaga saya dari pencobaan keangkuhan dan memenuhi saya dengan Roh Kudus-Nya setiap pagi. Saya percaya bahwa Tuhan menjawab doa saya.

Hasilnya, ketika timbul masalah keangkuhan, saya mengenalinya dan saya dapat mengambil keputusan untuk tidak pergi ke jalan menuju keangkuhan.

TANDA 1: MERINDUKAN PUJIAN DAN KEKAGUMAN MANUSIA

Jika Anda mendapatkan pujian bukan berarti Anda akan menjadi angkuh. Tetapi jika Anda “merindukan” pujian (sanjungan) maka hal itu akan dapat dengan cepat menyebabkan timbulnya keangkuhan. Salah satu cara untuk menghindari masuknya benih keangkuhan adalah dengan menerima pujian, tetapi jangan terlalu menikmatinya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan arti:

  • PUJIAN adalah (pernyataan) rasa pengakuan dan penghargaan yg tulus akan kebaikan (keunggulan) sesuatu.
  • SANJUNGAN adalah melontarkan kata-kata pujian untuk membangkitkan rasa senang; mempersenangkan hati.

Ketika Anda mengizinkan diri Anda “mabuk” emosional karena sanjungan, maka hal itu dapat membuat Anda kecanduan dan akhirnya Anda akan jatuh dalam dosa keangkuhan. Ini dapat membuka pintu bagi Anda untuk mengatakan kepada diri sendiri, “Saya sungguh luar biasa! Saya layak mendapatkan pujian ini! Saya ingin mendapatkan lebih banyak lagi!

TANDA 2: MENGHITUNG SKOR

Yang saya maksudkan adalah memgembangkan suatu sistem di mana kita dapat menghitung berapa banyak “angka” bermuatan gengsi yang sudah kita kumpulkan. Begitu kita mulai melakukan ini, kita mulai menghitung berapa banyak angka yang orang lain tidak miliki.
Semakin banyak orang yang dapatkan kita kalahkan dengan membandingkan angka kita, lalu timbul perasaan senang dan puas maka hal itu adalah jalan menuju keangkuhan hidup.

Menghitung skor adalah jalan menuju keangkuhan! Saya jatuh ke dalam dosa keangkuhan ini, ketika saya merasa senang melihat kenyataan bahwa para pengkritik saya jumlah jemaatnya tidak lebih banyak atau nasibnya masih jauh di bawah saya.

TANDA 3: MENGINDAP CREATOR COMPLEX

Kita tahu bahwa kita mengindap “creator complex” ketika kita mulai menilai kehidupan dan pelayanan orang lain kemudian membandingkan mereka dengan siapa kita dan apa yang kita kerjakan. Sejauh mereka mengerjakan hal-hal yang berbeda, kita cenderung menganggap mereka lebih rendah. Lalu, kita berusaha mengubah mereka dan menjadikan orang lain menurut gambar kita.

Tidak apa-apa menjadi orang lain menurut gambar Anda, seandainya anda memang Tuhan. Tetapi, jika Anda bukan Tuhan dan Anda berusaha menjadikan orang lain menurut gambar Anda, Anda mungkin mau berperan sebagai Tuhan! Itu sangat berbahaya sekali.

Kita tahu bahwa kita mengindap “creator complex” ketika kita merasa marah, jika ada orang yang melewati kewenangan kita, jika ada orang yang tidak menghormati kita dengan semestinya.

TANDA 4: BERGEMBIRA MELIHAT KEGAGALAN ORANG LAIN DAN MARAH MELIHAT KESUKSESAN ORANG LAIN

Siapakah yang tidak pernah mengalami godaan untuk bergembira melihat kegagalan orang lain dan marah melihat kesuksesan orang lain?

Apakah ada seseorang yang merasa senang ketika ada gereja lain di kotanya mengalami perpecahan? Apakah ada seseorang yang diam-diam senang mendengar cerita bahwa usaha rekannya yang serupa mengalami masalah keuangan dan tidak dapat membayar gaji? Anda dan saya sama-sama tahu bahwa bukanlah hal yang luar biasa bagi kita untuk menyimpan perasaan seperti ini. Perasaan ini didasarkan oleh ide bahwa kerugian Anda adalah keuntungan saya.

Apakah Anda mendapatkan diri Anda menjadi jengkel ketika ada orang lain yang menerima berkat yang luar biasa? Jika ya, anggap ini sebagai seorang yang sedang melambaikan tanda jalan ke-4
menuju keangkuhan, Anda harus berbalik ke arah jalan yang lain. Perbaruilah pikiran anda. Jangan biarkan pikiran Anda membenci keuntungan yang didapat orang lain. Bergembiralah ketika seorang sahabat mendapatkan mobil atau rumah yang baru dan lebih besar, ketika mereka bisa berangkat tour ke luar negeri bersama keluarganya; atau ketika berat badan mereka berkurang, sementara Anda agak tidak dapat melakukannya.

Richard j Foster membawa pokok ini selangkah lebih jauh dengan mengemukakan bahwa ketika Anda mendapatkan diri Anda berada dalam situasi persaingan, maka Anda harus benar-benar berdoa agar orang lain itu akan menjadi lebih menonjol, lebih dipuji, dan lebih dipakai oleh Tuhan.
Foster menulis, “Dukunglah mereka dan bergembiralah melihat keberhasilan mereka… Kalau Anda melakukan ini dengan setia, Anda akan benar-benar dan sungguh-sungguh belajar dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menanggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.” (Filipi 2:3).

Saya suka cara Andrew Murray menyampaikannya, “Orang yang rendah hati tidak merasa cemburu atau iri. Ia dapat memuji Tuhan saat orang lain lebih disukai dan diberkati di hadapannya. Ia dapat menanggung untuk mendengar orang lain dipuji dan dirinya dilupakan karena di hadapan Tuhan ia sudah belajar untuk berkata bersama Paulus, “Aku tidak berarti sedikit pun”

(2 Korintus 12:11).

Sebagian dari arti kerendahan hati adalah kesediaan untuk diremehkan atau diabaikan dan tidak merasa marah.

TANDA 5: MEMBELA DIRI SENDIRI SECARA KOMPULSIF TERHADAP KRITIK

Salah satu tanda yang jelas menuju kesombongan ada hubungannya dengan cara kita bereaksi terhadap kritik. Menurut definisi, KRITIK memang menyusahkan secara emosional. Respons yang wajar terhadap kritik adalah membalas. Ketika pengkritik mengatakan bahwa kita salah, kita pun merasa wajib untuk membuktikan bahwa kita benar.

Ketika kita melakukan ini, kita berusaha membuat diri kita tampak bagus dengan membuktikan bahwa penuduh kita salah. Ketika kita memggunakan pendekatan itu, walaupun kita berhasil, sebenarnya tidak ada yang menang. Kita sama-sama kalah. Kita kalah karena kita tunduk pada kesombongan.

Jauh lebih baik membiarkan para pengkritik mengutarakan apa yang mereka ingin katakan. Sebagai permulaan, kita harus memberikan tempat di dalam pikiran kita untuk kemungkinan bahwa mereka mungkin saja benar. Ini mungkin membutuhkan waktu. Ketika pertama kali mendengar kritik tersebut, kita mungkin terlalu marah untuk menerimanya. Tetapi kita harus selalu mengolahnya bersama berlalunya waktu sebelum memutuskan apakah kritik itu benar atau tidak.

Jika benar, kita tidak boleh ragu untuk mengakuinya dan berterima kasih kepada pengkritik kita karena sudah membantu kita berpikir dengan lebih baik. Jika kritik itu sebenarnya tidak benar, mengapa tidak mengambil jalan yang lebih bermanfaat? Mengapa tidak melanjutkan hidup kita dan berdoa agar Tuhan memberkati si pengkritik?

Andrew Murray memberi nasehat mengenai hal ini dengan menulis, “Mari kita memandang semua saudara kita yang menguji atau menggangu kita sebagai alat Tuhan untuk memurnikan kita.”

Setiap kali Anda melihat salah satu tanda ini yang menandai jalan menuju keangkuhan, berputarlah dan pergilah ke arah yang berlawanan. Anda akan menjadi lebih baik. Dan jangan tunggu sampai Anda menjadi terlambat!

Tuhan Yesus memberkati