Kisah Simson: Arti Penting Sebuah Fellowship

Hakim-Hakim 16:19-20
Sesudah itu dibujuknya Simson tidur di pangkuannya, lalu dipanggilnya seorang dan disuruhnya mencukur ketujuh rambut jalinnya, sehingga mulailah Simson ditundukkan oleh perempuan itu, sebab kekuatannya telah lenyap dari padanya.
Lalu berserulah perempuan itu:”Orang Filistin menyergap engkau, Simson!” Maka terjagalah ia dari tidurnya serta katanya:”Seperti yang sudah- sudah, aku akan bebas dan akan meronta lepas.” Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia.

Simson adalah seorang yang memiliki kekuatan hebat yang luar biasa. Kuasa Allah begitu besar di dalam hidupnya. Dia juga adalah seorang yang menerima pewahyuan yang khusus dari Allah. Namun Simson hidup dalam kesepian. Dia melakukan apa pun sesuka hatinya saja. Tidak ada seorang nabi pun yang berbicara untuk hidupnya.

Tidak ada seorang pun saudara yang menguatkan dan mengoreksi dia. Tidak ada seorang pun murid yang mengikuti dia. Dia hidup sendirian dengan urapan Allah yang begitu besar. Tuhan memakai hidupnya untuk menjadi Hakim atas Israel namun sesungguhnya dia sangat menderita sensara karena dia tidak memiliki fellowship di antara saudaranya.

Dia mungkin berpikir bahwa dirinya lebih rohani dibanding semua orang Israel lainnya. Dia pikir bahwa dia memiliki urapan yang dahsyat ada di atas hidupnya sehingga dia tidak lagi membutuhkan orang lain. Dia tidak begitu tertarik dan tidak peduli dengan keadaan orang Israel yang lemah imannya, yang mengeluh kesakitan dan kesusahan. Sebaliknya orang-orang Israel berusaha untuk menyerahkan semua musuh untuk ditangani oleh Simson.

Simson hidup menyendiri, terkurung, dan dia tidak pernah berusaha untuk mengatasi kesendiriannya. Simson mengurung dirinya, mungkin juga untuk menghindari diri dan menutupi kelemahannya yaitu, soal perempuan.

Fellowship atau persekutuan di antara saudara seiman itu sangat berguna bagi hidup kita.
Fellowship itu melindungi kita.
Fellowship itu mengangkat kita.
Fellowship itu membuat kita bisa bertanggung jawab atas hidup kita karena ada yang mengawasi.

Tanpa fellowship kita akan bertumbuh besar menjadi seperti kuda liar yang tanpa kekang, seperti pohon yang tidak pernah dipangkas. Kita tidak akan bisa berbuah.

Di masa-masa pencobaan, dan seringkali Simson mengalami pencobaan, Simson selalu menghadapinya seorang diri. Tidak ada seorang pun yang mengingatkannya, menegornya atau menolongnya.

Karunia Roh Kudus yang ada pada dirinya tidak dapat menolong dirinya ketika dia mengambil keputusan menjalani gaya hidup yang menyimpang dan berdosa.

Tragedi terbesar dalam hidup ini adalah pergi tidur di pusaran dunia ini, memiliki mata rohani yang buta dan menjadi tertawaan orang-orang dunia, sementara kita hidup hanya hidup dan melayani diri kita sendiri.

Samuel telah dapat melakukan sesuatu yang besar bagi Tuhan oleh karena dia tidak mengurung dirinya sendiri dan dia tidak berjalan seorang diri. Sebab tidak ada seorang pun yang dapat hidup bagi dirinya sendiri; dan kita harus hidup bagi sesama kita sebab kita milik bersama.

Bangunlah fellowship!