Kita akan belajar dari Yakub bagaimana dia dilepaskan TUHAN dari masalah, yaitu:

1. New Intimacy.

Keintiman yang baru dengan TUHAN.

Kejadian 35:1,
Allah berfirman kepada Yakub: “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu”.

Sebelumnya Yakub berada di Sikhem, suatu kota yang baik secara ekonomi, tetapi cara hidup penduduk kota itu tidak bermoral dan berdosa. Dina, anaknya sendiri diperkosa di Sikhem, (dibaca: Kejadian 34:3, 25-31)

Di Sikhem, Yakub mengalami banyak masalah yang sulit, walaupun secara ekonomi dia berhasil. Kemudian Tuhan menyuruh dia pergi ke Betel, untuk melepaskan dia dari kesibukan duniawi dan masalah yang dihadapinya di Sikhem.

Mungkin kita sudah terlalu lama berada di dalam kesibukan duniawi kita, seperti Yakub ketika tinggal di Sikhem, sehingga dia mengalami masalah dan krisis. Tuhan ingin supaya kita membangun keintiman yang baru.

Mungkin sudah terlalu lama kita meninggalkan Tuhan, sehingga krisis yang terjadi ini membuat kita takut. Untuk itu kita harus semakin dekat dengan Tuhan. Kita harus membangun mezbah.

Namun, masalah kita selalu berbenturan dengan waktu, sehingga untuk mencari Tuhan, kita tidak punya waktu. Justru solusi yang Tuhan tawarkan adalah agar kita menyediakan waktu untuk TUHAN. Sebab Dia adalah Allah yang rindu berbagi dan menyalurkan apa yang Dia miliki untuk kita. Tetapi, Dia perlu sarana untuk menyalurkan berkat-Nya, yaitu keintiman.

Ketika manusia diciptakan, Allah menghembuskan nafas-Nya, artinya face to face, dekat, intim. Keintiman ini menyebabkan kita dapat menghirup kehidupan Allah ke dalam hidup kita. Selama kita dapat menghirup kehidupan Allah, maka apa pun masalah dan krisis yang terjadi kita tetap kuat dan mampu bersyukur.

Tetapi, yang kita hirup adalah udara kesibukan duniawi ini, itulah sebabnya kita sering merasa lemah saat ada masalah. Padahal, Tuhan ingin membagikan kehidupan kepada kita. Mari kita berubah. Jangan jadi korban kesibukan. Mari buat komitmen baru. Jangan biarkan kesibukan mencuri keintiman kita dengan Tuhan.

2. New attitude.

Cara hidup yang baru.

Kejadian 35:2,
Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: “Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu”.

Membuang kebiasaan lama. Mari membuang “dewa-dewa” dan memakai pakaian yang layak sebagai umat Allah. Bangun kebiasaan baru. Ganti kebiasaan negatif dengan yang positif.

Hanya intim saja tidak cukup, tetapi perlu perubahan sikap hidup. Berubah itu mungkin sulit, tetapi kalau tidak berubah pasti fatal. Jika kita ingin hidup lebih baik, kita harus memperbaiki cara hidup kita. Sikap yang berubah akan merubah masa depan kita.

Misalnya: budaya mencari jalan pintas, budaya konflik, budaya curiga, budaya mencela, budaya narsisme (memuja diri sendiri), budaya tidak tahu malu, budaya popularisme, budaya mencari alasan, budaya menunda, budaya keroyokan (tidak berani bertanggung jawab).
Itulah budaya lama yang harus kita buang.

Pisahkan diri, kuduskan hidup.
Berkat bagi Yakub setelah dia membangun keintiman dan kebiasaan yang baru adalah:
a. New Authority

Kejadian 35:5
Pada waktu Yakub dan rombongan keluarganya berangkat, Allah meliputi penduduk kota- kota sekitar dengan rasa takut, sehingga mereka tidak mengejar Yakub dan rombongannya.

b. New Identity

Kejadian 35:10
Kata Allah kepadanya, “Engkau tidak akan disebut lagi Yakub, tetapi Israel.” Demikianlah Allah menamakan dia Israel.

c. New Blessing

Kejadian 35:11-12
Lalu kata Allah pula, “Akulah Allah Yang Mahakuasa. Hendaklah engkau beranak cucu yang banyak! Engkau akan menurunkan bangsa- bangsa dan menjadi bapak leluhur raja- raja. Negeri yang telah Kuberikan kepada Abraham dan Ishak, akan Kuberikan kepadamu dan keturunanmu.”