Bacaan: Yohanes 6:4-13

Ada beberapa prinsip sederhana yang sangat powerful dari kisah Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki.

1. Miliki compassion dan care

Yohanes 6:5
Ketika Yesus memandang sekeliling- Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong- bondong datang kepada- Nya, berkatalah Ia kepada Filipus:”Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?”

Jika kita mau mengalami pelipatgandaan di dalam segala aspek kehidupan, pertama-tama kita harus memiliki belas kasihan dan kepedulian kepada jiwa-jiwa terhilang, jiwa yang paling hina dan menderita

Cobalah periksa apakah hati kita masih tersentuh oleh belas kasihan jika melihat orang-orang yang kita kasihi belum diselamatkan jiwanya dan mereka yang masih hidup di dalam kegelapan dosa? Apakah hati kita tersentuh oleh belas kasihan jika melihat orang-orang hina dan menderita? Apakah kita memiliki hati untuk peduli akan kebutuhan orang lain?

Alkitab berkata ketika Yesus melihat orang banyak tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan (Yohanes 6:5, Matius 14:14).

Inilah langkah pertama sebelum Yesus melakukan mujizat pelipatgandaan, memberi makan 5000 orang laki-laki hanya dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan. Alkitab menulis, “Dia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.” (Yohanes 6:6)

Salah satu kunci mengaktifkan kuasa Allah adalah belas kasihan dan peduli terhadap kebutuhan orang lain.

Itulah sebabnya Dia menggerakkan hati-Nya dengan belas kasihan dengan “melihat orang banyak,” sebelum Dia melakukan mujizat.

Kuasa Allah bekerja selaras dengan kasih-Nya kepada jiwa-jiwa yang terhilang dan menderita. Itulah sebabnya seringkali belas kasihan Tuhan mendahului mujizat dan tanda-tanda ajaib. Dengan demikian kita mengerti di sini bahwa mujizat Tuhan adalah bukti dari kasih Tuhan.
Mujizat terbesar adalah keselamatan jiwa dan hidup yang kekal di dalam Kristus Yesus.

Ada tiga buah kaca di dalam mobil, merupakan gambaran dari gaya hidup seseorang.
“Kaca Depan” – kita bisa melihat ke depan supaya mobil bisa bergerak maju ke tujuan.
“Kaca Spion” – kita bisa melihat ke belakang supaya mobil bisa bergerak mundur.
“Kaca Rias” – kita bisa melihat wajah dan diri kita.

Hati kita bisa tergerak oleh belas kasihan, jika kita melihat kebutuhan orang lain, inilah cara hidup yang melihat “kaca depan.” Inilah hidup dalam berkat dan hidup dalam kelimpahan. Inilah cara hidup yang dikehendaki Allah. Inilah cara hidup yang menyenangkan hati Tuhan.

Kaca Rias bisa digunakan untuk melihat wajah dan mempercantik diri, namun jika kita terus menerus memandang kaca rias maka ibarat seseorang yang terus menerus melihat diri sendiri, mengasihani diri sendiri, terus menerus menangisi kemalangan dan penderitaan, mementingkan diri sendiri.

Sedangkan, cara hidup orang yang hanya menggunakan “kaca spion” adalah orang-orang yang selalu memikirkan perkara-perkara yang di belakang dan masa lalu – semua kejadian yang tidak bisa diubahkan dan semuanya sudah terjadi.

Seseorang bisa saja bangkrut dan gagal di dalam keuangannya pada saat tertentu tetapi belum tentu dia orang miskin. Sebab kaya atau miskin bukanlah diukur dari jumlah harta yang bisa dilihat atau dihitung. Kaya atau miskin adalah sikap mental. Seseorang bisa saja bangkrut tetapi jika dia masih bisa “berbagi kasih” dengan orang lain dari apa yang masih dimilikinya, sebenarnya dia adalah orang yang makmur atau kaya. Dan pada waktunya kelak, Tuhan akan membuka jalan dan mempertemukan dia dengan orang yang tepat untuk mengalami pemulihan dan kelimpahan.

Inilah berkat Tuhan bagi semua orang yang hidup di dalam kasih dan belas kasihan. Mereka tidak mementingkan diri sendiri, bahkan di dalam kekurangan sekali pun mereka peduli kepada kebutuhan orang lain.

Rasul Paulus menyaksikan tentang jemaat di Makedonia bahwa “selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” (2 Korintus 8:3-5).
Jemaat Makedonia memiliki kasih karunia dalam memberi.

Pada Suratnya kepada Jemaat Filipi, Rasul Paulus pun mengatakan, “Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaat pun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.” (Filipi 4:15-16)

Anda tahu apa berkat bagi jemaat Makedonia atau Filipi ini? Mereka berada dekat di hati Rasul Paulus, dan mereka turut mendapat bagian kasih karunia yang diberikan Tuhan kepada Rasul besar ini, inilah yang disebut “blessing” itu.

Alkitab berkata, “Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.” (Filipi 1:7)

Ketika Tuhan menyuruh kita memberikan makan orang miskin, mereka yang belum mengenal Kristus dan kemudian kita lakukan dengan setia – hasilnya adalah Tuhan melipatgandakan ribuan jiwa untuk diselamatkan, disembuhkan dan dipulihkan hidupnya lewat pelayanan di gereja kita.

2. Miliki ketajaman mata untuk melihat keunggulan dari orang-orang di sekeliling dan ajaklah bekerja sama.

Yohanes 6:8-9
Seorang dari murid- murid- Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada- Nya: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”

Prinsip kedua adalah kerja sama atau networking. Kita tidak bisa hidup sendirian saja, apabila kita bisa menemukan orang yang tepat untuk dijadikan “rekan” kerja sama maka kita akan melihat hasil-hasil yang mencengangkan.

Andreas, salah satu murid Yesus, yang memiliki ketajaman mata untuk melihat orang di sekelilingnya untuk dijadikan rekan di dalam pelayanannya. Di saat Yesus hendak memberikan makan untuk 5000 orang laki-laki, Andreas menemukan seseorang yang tepat diajak kerja sama, seorang anak kecil yang memiliki 5 ketul roti dan 2 ekor ikan.

Kita harus bisa mengakui kelebihan orang lain jika kita mau menjadikan mereka rekan untuk diajak kerjasama. Kesulitan mengakui keunggulan orang lain dan memaklumi kelemahan orang lain akan membawa kita kepada kesulitan mendapatkan orang yang tepat untuk dijadikan rekan kerja sama.

Ada pepatah Tiongkok kuno: “Jika Anda tidak bisa mengalahkan kecepatan kuda yang berlari, mengapa Anda tidak ‘menungganginya’ saja?” inilah prinsip kerja sama yang saling melengkapi.

Prinsip pertama, keunggulan kita di bidang tertentu hendak digunakan untuk menolong menutupi kelemahan orang lain di bidang tersebut. Sedangkan prinsip yang kedua, keunggulan orang lain bisa menutupi kelemahan kita dengan cara bekerja sama.

3. Miliki cara hidup yang “menyisihkan” bukan “menyisakan”

Yohanes 6:9
Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”

Apakah yang membuat anak kecil itu bisa dipakai oleh Tuhan? Sebab dia memiliki 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Bagaimana dia bisa memiliki roti dan ikan sebanyak itu? Sebab dia sudah ‘mempersiapkan dirinya’ untuk keperluan makan siangnya. Ia telah melakukan persiapan.

Mengapa orang banyak mengalami kelaparan?
Mereka tidak pernah mempersiapkan diri untuk keperluan makan siang mereka, itulah perbedaan antara anak kecil dan orang banyak.

Apakah yang membedakan seseorang yang dipakai Tuhan dengan mereka yang kehilangan kesempatan untuk dipakai Tuhan? Perbedaannya terletak pada cara hidup mereka, yang satu memiliki cara hidup yang “menyisihkan” dan yang lain “menyisakan

Apa beda “menyisihkan” dan “menyisakan“?
Katakanlah Anda memesan sepiring nasi goreng di restoran dan ingin membaginya dengan orang di rumah. Menyisikan berarti mengambil dulu sebagian dari nasi itu untuk dibungkus, sisanya baru Anda makan. Menyisakan berarti sebaliknya, Anda santap dulu nasi goreng itu sampai kenyang, sisanya baru dibungkus untuk dibawa pulang.

Menyisihkan itu artinya mengutamakan, menomorsatukan. Menyisakan itu menomorduakan. Cobalah belajar memiliki cara hidup yang mengutamakan hal-hal yang rohani, lakukan segala sesuatu untuk memuliakan Tuhan.

Sisihkanlah terlebih dahulu waktu Anda untuk Tuhan, untuk keluarga, untuk hal-hal yang berguna bagi masa depan yang baik. Sisihkanlah uang Anda, untuk persepuluhan, untuk ditabung, untuk ditaburkan, untuk keperluan biaya hidup.

Saya yakin jika kita punya cara hidup menyisihkan dan bukan menyisakan maka jika Tuhan datang kedua kali, kita siap untuk menyambut-Nya. Anda pun jadi orang sukses dan bahagia.

4. Miliki hati yang penuh dengan ucapan syukur supaya Anda bisa melayani kebutuhan orang lain.

Yohanesv 6:11-13
Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi- bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat- Nya dengan ikan- ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid- murid- Nya:”Kumpulkanlah potongan- potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan- potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.

Ada banyak orang sudah tidak bisa melihat bahwa semua yang baik yang dialaminya adalah pemberian Tuhan, semuanya itu adalah berkat Tuhan di dalam hidupnya sehingga mereka tidak pernah bisa bersyukur. Ketika kita tidak memiliki hati yang bersyukur maka kita akan menganggap remeh, menyia-nyiakan dan memboroskan berkat Tuhan.

Apabila hati kita penuh dengan ucapan syukur maka kita bisa menghargai berkat Tuhan, dan dari situlah mujizat pelipatgandaan terjadi. Alkitab berkata bahwa mereka banyak sampai kenyang setelah Tuhan Yesus mengucap syukur (Yohanes 6:23).

Tuhan Yesus memberkati.