Sikap Suka Melempar Kesalahan dan Tanggung Jawab

I. Pendahuluan:

Matius 27:24
Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia- sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”

Coba perhatikan, sikap suka melempar kesalahan dan tanggung jawab menjadi tontonan dan perilaku hidup sehari-hari. Istilah umumnya: “Saya jadi begini karena ulah mereka.

Sebenarnya sikap suka melempar kesalahan dan tanggung jawab kepada orang lain sudah ada semenjak Adam berada di Taman Eden yaitu, ketika dia berkata kepada Tuhan, “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (Kejadian 3:12).

Dengan kata lain Adam mau berkata demikian jika Tuhan tidak menempatkan Hawa di sisinya maka peristiwa itu tidak akan pernah terjadi yaitu, dia tidak akan melanggar perintah Tuhan.
Namun nampak sekali di sini bahwa Adam sedang menyalahkan dan melempar kesalahan kepada pihak lain dalam hal ini: Hawa, istrinya dan Tuhan yang telah menempatkan Hawa di sisinya.

Akibatnya dari sikapnya itu, hubungan mereka dengan diri mereka sendiri, hubungan mereka masing-masing, hubungan mereka dengan lingkungan mereka dan hubungan mereka dengan Tuhan berubah secara drastis, hubungan tidak lagi menjadi harmonis. Akibat selanjutnya mereka, Adam dan Hawa diusir keluar dari Taman Eden. Sebuah harga yang sangat mahal yang harus dibayar!

Saya menjadi gemuk begini karena saya harus menemani
suami makan tiap malam selain itu saya juga merasa sayang
lihat makan yang tidak dihabiskan oleh anak-anak.
Saya mengalami kecelakaan, menabrak trotoar dan terjatuh
oleh karena pemerintah membuat trotoar di tengah jalan.

Melempar kesalahan dan tanggung jawab kepada orang lain memang bisa menentramkan hati untuk sementara waktu namun tetap mengandung akibat yang sangat fatal. Apabila Anda mau mengambil tanggung jawab di hadapan Tuhan dan berhenti menyalahkan orang lain maka hal itu akan mengurangi rasa bersalah, kekecewaan dan stress.

II. Berikut beberapa akibat dari sikap suka menyalahkan, melempar kesalahan dan tanggung jawab:

(1). Menimbulkan pertikaian dan permusuhan.

Ibrani 12:15
Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

Orang yang Anda salahkan akan mengabaikan Anda, alias akan cuek dengan Anda; dia akan mengumpulkan bukti-bukti untuk menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah; dan orang itu akan bangkit menyerang Anda. Para sahabatnya akan membela orang itu dan mereka sepakat akan memusuhi Anda, bahkan sahabat Anda sendiri pun akan resah dengan Anda, mereka akan menjaga jarak dengan Anda.

Akar pahit dapat menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang.

(2). Menularkan.

Amsal 22:24-25
Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri.

Sikap suka menyalahkan itu menularkan. Jika Anda hidup di dalam sebuah keluarga yang suka menyalahkan dan melempar kesalahan kepada orang lain maka Anda bisa tertular dengan perilaku demikian.

Berhentilah melempar kesalahan dan kelemahan Anda kepada orang yang mengasihi Anda.

(3). Membuat Anda ketagihan.

Membenarkan diri sendiri dengan menyalahkan dan melempar kesalahan kepada orang lain akan menghancurkan hidup Anda dalam jangka panjang. Sikap negatif ini, biasanya suka dibungkus dengan kemarahan yang meledak-ledak demi menentramkan rasa bersalah lalu melempar kesalahan kepada orang lain.

Memang lebih mudah mengeluh dan melempar kesalahan kepada orang lain daripada menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Sifat seperti ini membuat orang ketagihan, lama ke lama Mereka akan menjadi seorang yang ahli dalam menyalahkan dan melempar kesalahan kepada orang lain.

(4). Merampas kemampuan untuk mengampuni.

Anda tidak akan bisa mengampuni seseorang sementara Anda menyalahkan dan membenci orang itu. Pada saat Anda membuang-buang waktu dan energi menyalahkan dan membenci mereka, pada saat itu Anda kehilangan hak Anda untuk menerima pengampunan Tuhan.

Matius 6:15
Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Inilah waktunya untuk berhenti menyalahkan dan melempar kesalahan kepada orang lain, ambil alih tanggung jawab atas hidup Anda, dan ambil alih kuasa Tuhan dengan mentaati firman-Nya ini.

III. Berikut ada 2 (dua) alasan utama mengapa kita harus berhenti menyalahkan dan melempar kesalahan kepada orang lain:

(1). Sikap suka menyalahkan dan melempar kesalahan membuat Anda terus menerus merasa menjadi “korban.”

Efesus 5:15-17
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari- hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

Ketika Anda menyalahkan dan melempar kesalahan Anda kepada orang lain atas keadaan Anda, sebenarnya Anda sedang menyerahkan kuasa untuk mengubah hidup Anda ke tangan orang lain.
Selain dari pada itu, ketika Anda menyalahkan dan melemparkan tanggung jawab kepada orang lain maka Anda sedang menyerahkan nasib hidup Anda di tangan mereka.

Hanya dengan menerima tanggung jawab secara pribadi Anda dapat mengaktifkan kuasa untuk mengubah nasib hidup dan keadaan Anda.

Beberapa orang yang merasa dirinya menjadi “korban” suka berkata demikian:
Saya tidak bisa mantap bekerja di suatu tempat sebab saya belum menemukan seorang Boss yang baik dan murah hati selain dari pada itu juga saya belum menemukan pekerjaan yang cocok buat saya, makanya sekarang saya menganggur.

Saya suka marah-marah dan hidup saya jadi tidak berbahagia sebab orang-orang di sekitar saya sangat menjengkelkan. Saya sulit dan tidak bisa tidur karena banyak pikiran.

Nasib saya jadi begini karena ulah mereka.

(2) Sikap suka menyalahkan dan melempar kesalahan membuat Anda menjadi lebih sengsara dan menderita.

Efesus 4:30-32
Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Anda bisa berkata, “Tapi mereka telah menyakiti saya.” Ya, dan dengan menyimpan kebencian, Anda sedang menyakiti diri Anda sendiri berulang-ulang.

Pada saat Anda mengampuni, Anda sedang mengambil kembali kehidupan Anda. Dan Anda sedang membuang sikap suka menyalahkan dan melempar kesalahan kepada orang lain.