Kunci Sukses Bebas Hutang

[highlight]Yesaya 49:14-16[/highlight]

Sion berkata: “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.
Inilah kata-kata orang Israel yang mengalami kesusahan besar sehingga mereka merasa ditinggalkan dan dilupakan Allah. Tanggapan Allah memberikan kepastian ilahi kepada setiap orang percaya yang sedang mengalami masa-masa sulit. Kasih-Nya kepada kita lebih besar dari pada kasih seorang ibu bagi anaknya, karena itu mustahil Dia melupakan kita, khususnya pada masa kesedihan dan kesusahan.

Bukti kasih Allah yang besar adalah Dia telah melukiskan kita di telapak tangan-Nya, sehingga tidak akan melupakan kita. Bekas luka di telapak tangan-Nya adalah tanda kasih-Nya yang besar dan kerinduan-Nya untuk memperhatikan kita. Dia punya rancangan untuk membebaskan Anda dari ikatan belenggu hutang, supaya Anda mengalami kemerdekaan dalam keuangan. Dia bukan hanya ingin memulihkan Anda tetapi juga membuat Anda hidup di dalam kelimpahan.

Tuhan ingin membebaskan Anda dari ikatan belenggu hutang. Hutang bukan sekedar Anda meminjam sejumlah uang kepada pihak lain, namun dibalik hutang ada kekuatan untuk melumpuhkan dan menghancurkan hidup Anda. Jika Anda mau mengalami kelepasan atas ikatan belenggu hutang ini, Anda harus menghadapinya lewat peperangan rohani untuk menaklukkan kekuatan jahat di balik hutang itu.

Beberapa prinsip kebenaran firman Tuhan di bawah ini bisa menjadi langkah penting untuk Anda mengalami kelepasan atas belenggu hutang:

Langkah Pertama: Hidup di dalam Kasih

Langkah pertama dan terpenting di dalam peperangan rohani melawan hutang adalah kita harus tetap tinggal di dalam kasih. Kemampuan kita untuk hidup di dalam kasih Kristus adalah langkah penting untuk mengalami kelepasan atas hutang- hutang.

Roma 13:8 mengajarkan kita: “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi...”

Berhutang untuk mengasihi, atau saling mengasihi adalah kewajiban bagi semua orang Kristen. Kita harus menguji diri sendiri setiap hari kemana pun saya melangkah, saya harus hidup di dalam kasih.

Jika seseorang sudah berdiri di atas kebenaran firman Tuhan untuk terobosan keuangannya tetapi tetap belum melihat hasil apa pun, penghalangnya bisa saja disebabkan oleh ketidakmampuannya hidup di dalam kasih.

Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, “Kepada siapakah saya berhutang kasih dan harus melunasinya segera? Apakah perselisihan, perasaan sulit mengampuni, atau luka-luka masa lalu membuat saya tidak bisa mengasihi orang lain? Jika ya, inilah waktunya Anda membereskannya terlebih dahulu.

Tuhan tidak akan pernah bisa memberkati Anda, kuasa-Nya tidak akan bisa mengalir di dalam hidup Anda jika Anda menolak untuk mengasihi. Ketika kita memberikan persembahan kasih, kita dapat menerima kasih Bapa di dalam bentuk kuasa untuk membebaskan diri dari ikatan utang dan kuasa untuk memenuhi segala kebutuhan kita.

Langkah Kedua: Perkatakan Firman Tuhan atas Hidup Keuangan Anda

Jika fondasi kasih itu kokoh di dalam hidup kita, kita dapat mulai menerima janji Tuhan. Alkitab berkata: “Apabila engkau memutuskan berbuat sesuatu, maka akan tercapai maksudmu, dan cahaya terang menyinari jalan-jalanmu.” (Ayub 22:28).

Ketika kita membuka mulut dan menyatakan apa yang Tuhan firmankan sehubungan dengan keuangan kita, kita sedang mengaktifkan kekuatan sorgawi bekerja untuk kita. Saat kita memperkatakan firman Tuhan atas keadaan keuangan kita, kita sedang membuat proklamasi kemerdekaan atas ikatan belenggu keuangan kita. Saat kita mengambil keputusan itu atau menyatakan firman-Nya sesungguhnya kita sedang kita membuat sebuah perintah yang mengandung otoritas untuk melaksanakan apa yang difirmankan-Nya.

Langkah kedua untuk peperangan rohani melawan ikatan hutang adalah memberitahukan Iblis bahwa Kita telah mengalami kelepasan atas hutang dan kita mengalami kemerdekaan keuangan. Tugas kita adalah mengaktifkan kuasa Allah untuk menghancurkan roh di balik hutang melalui pernyataan bahwa kita telah dibebaskan dari ikatan belenggu hutang, sesuai dengan firman Tuhan ( Ulangan 15:1-4).

Langkah Ketiga: Mengikat Musuh

Langkah ketiga untuk menghadapi peperangan melawan ikatan hutang adalah mengikat musuh. Ada banyak orang tidak menghiraukan akan hal ini, karena mereka tidak mengerti betapa pentingnya mengikat musuh ini.

Percaya atau tidak, roh jahat itu ada. Faktanya, ada roh-roh jahat yang ditugaskan secara khusus untuk menghancurkan beberapa aspek di dalam kehidupan kita, meliputi keuangan kita.

Alkitab berkata, “Peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan roh-roh jahat di udara… (Efesus 6:12). Jika kita mengerti akan peperangan rohani tentang siapa yang melawan kita, maka kita bisa mengambil perlengkapan senjata Allah yaitu firman Tuhan untuk menghadapinya.

Kita harus mengetahui siapakah musuh kita, apa taktik serangannya, dan siapa kita didalam Kristus. Jika kita mengetahui akan hal ini, maka kita bisa menang mengatasi musuh kita, roh jahat yang menghancurkan keuangan kita.

Dalam Matius 12:28-29, Yesus mengungkapkan kunci penting dalam peperangan rohani. “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Atau bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu? Sesudah diikatnya barulah dapat ia merampok rumah itu.”

Kita harus mengikat musuh, atau sebagaimana firman Tuhan, “Orang kuat” itu harus diikat dahulu. Jika kita bisa mengurung musuh dengan mengikatnya, kita akan memiliki kemampuan untuk bergerak maju dan melihat hasil-hasil yang penuh berkat di dalam hidup keuangan kita. Oleh karena itu, saat kita berdoa seharusnya secara spesifik kita berdoa untuk kelepasan di dalam hutang.

Langkah Keempat: Bertindak dengan Iman yang Teguh

Langkah keempat di dalam peperangan rohani mengatasi ikatan belenggu hutang adalah bertindak dengan iman yang teguh.

Seringkali saya mengajarkan jemaat untuk selalu memikirkan janji firman-Nya, membayangkan bahwa janji-Nya itu telah terjadi, mempercayai dan terus memperkatakan ~ sampai Anda melihat benteng-benteng musuh itu runtuh di alam roh, dan terobosan keuangan terjadi di dalam hidup Anda.

Membangun Iman yang teguh berarti Anda mendisiplinkan diri untuk menolak setiap pikiran-pikiran negatif, menolak memperkatakan perkataan-perkataan yang bertentangan dengan janji firman-Nya. Membangun iman yang teguh berarti Anda membangun sikap iman yang positif, memelihara sukacita ilahi dan sikap hati yang penuh ucapan syukur kepada Tuhan.

Setiap kali Tuhan hendak memberkati umat-Nya, Dia akan berkata, “Lihatlah, pandanglah, ketahuilah…” (Kejadian 13:14, 15:5, Keluaran 14:13, Yosua 6:2, Mazmur 34:9, Yeremia 1:10, Yesaya 43:19), dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menyatakan hal ini.

Begitu pula halnya ketika Yesus mengajarkan tentang iman yang memindahkan gunung, Dia berkata, “apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24). Artinya, iman yang teguh ini diungkapkan dari kemampuan kita melihat akan jawaban atas doa kita, solusi atas masalah kita sebelum hal itu terjadi maka selanjutnya Tuhan akan mewujudkannya atas hidup kita.

Langkah Kelima: Ampuni Dirimu

Anda harus membebaskan diri dari tuduhan bersalah, Anda harus bisa mengampuni diri Anda, sehubungan dengan masalah keuangan yang melilit hidup Anda. Jika Anda mau bergerak maju ke depan, Anda harus membebaskan diri Anda dari rasa bersalah akibat keputusaan yang salah di masa lalu.

Filipi 3:13-14, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Jika Rasul Paulus selalu dikuasai rasa bersalah yang dibuatnya di masa lalu, maka ia tidak akan pernah mencapai panggilan Allah di dalam hidupnya. Rasul Paulus berkata aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku. Melupakan apa yang di belakang bukan berarti mengabaikan hutang dengan cara tidak mau melunasinya. Melupakan apa yang di belakang berarti kita terus melangkah maju ke depan walaupun kita telah membuat kesalahan di masa lalu. Kekuatiran dan menyesali diri terus menerus atas kesalahan di masa lalu menyebabkan kita kehilangan momentum untuk melangkah maju ke depan.

Yesaya 43:18-19, firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”

Artinya, sebesar apa pun kesalahan kita dalam mengatur keuangan di masa lalu, kita harus percaya bahwa Tuhan mampu untuk memulihkan keadaan keuangan kita. Tuhan tidak berdiri untuk menghukum kita karena kesalahan yang telah kita lakukan di masa lalu. Tuhan sangat mengasihi kita. Kita harus percaya akan kasih-Nya dan percaya bahwa Dia dapat membalikkan keadaan Anda sekarang.

Ketika Anda mengambil keputusan untuk melupakan apa yang di belakang, inilah saat Anda bergerak maju ke depan mengalami kelepasan dari ikatan belenggu hutang. Bergerak maju ke depan berarti kita menaruh perhatian penuh dalam aspek rohani dan aspek mengelola keuangan yang benar yang merupakan bagian kita, selanjutnya Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya.