Kategori Kekuatiran

1 Petrus 5:7
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada- Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”

Ada 3 (tiga) katergori utama kekuatiran. Marilah kita mengamatinya dan melihat bagaimana menangani kekuatiran itu supaya tidak menyeret kita ke dalam depresi dan keputusasaan.

1. Kekuatiran tentang Masa Lalu dan Masa Depan
Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah!” (Pengkotbah 4:17)

Kekuatiran itu artinya meninggalkan (secara pikiran) keadaan di mana Anda berada sekarang, dan memikirkan perkara yang sudah terjadi di masa lalu atau perkara yang belum terjadi di masa depan.

Beberapa ayat firman Tuhan menunjukkan agar kita belajar menjadi orang yang hidup pada hari ini.
2 Korintus 6:2
“Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.”

Ibrani 3:7, 15
Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.”

Ibrani 4:7-9
Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu sebab masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.”

Terlalu sering kita menghabiskan waktu kita dalam masa lalu atau masa depan. Kita perlu belajar untuk hidup dalam masa sekarang, baik secara mental maupun secara jasmani dan rohani.

Pada suatu saat, ketika saya sedang gosok gigi, tiba-tiba saya menyadari bahwa saya sedang terburu-buru dan sibuk untuk mengerjakan hal lain lagi. Saya sedang mengerjakan satu hal, namun pikiran saya melayang mau mengerjakan hal lainnya pada saat yang sama. Saya seharusnya berkonsentrasi untuk mengerjakan satu hal sampai selesai, lalu mengerjakan hal lainnya.

Apakah Anda tahu mengapa begitu sulit untuk menaruh perhatian pada satu hal saja pada waktu tertentu? Karena kita lebih disibukkan dengan masa lalu atau masa depan daripada disibukkan untuk mengerjakan yang harus dikerjakan hari ini.

Pengkotbah 4:17 memberi nasehat agar kita memusatkan pikiran pada apa yang sedang kita lakukan, berhati-hati dan menjaga langkah, jika kita berjalan ke rumah Tuhan.
Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah!”

Dengan kata lain, kita harus berhati-hati untuk menjaga keseimbangan dari hidup ini. Kita harus memfokuskan diri pada apa yang sedang kita kerjakan. Jika tidak, kita akan berakhir dalam kekuatiran dan kegelisahan.

Tuhan Yesus menasehati kita tentang mengatasi kekuatiran:
“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesussahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:34).

Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan kepada kita agar kita tidak merasa kuatir tentang apa pun juga. Hal yang paling perlu kita lakukan adalah mencari dahulu dan mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka Tuhan akan menambahkan apa pun yang kita butuhkan, apakah itu makanan atau pakaian atau tempat tinggal atau pertumbuhan rohani (Matius 6:24-33).

Kita tidak perlu terlalu memusatkan perhatian terhadap hari esok, karena hari esok akan mempunyai persoalannya sendiri. Kita hanya perlu memusatkan perhatian kita secara penuh terhadap hari ini, segala sesuatu yang dijumpai tangamu untuk dikerjakan hari ini, kerjakanlah itu dengan sekuat tenaga. Anda akan melihat campur tangan Tuhan terjadi atas hari esok Anda.

Kita harus berhenti untuk menjadi terlalu serius, tegang dan resah. Tenangkanlah diri dan bergembiralah karena Tuhan! Tertawalah lebih banyak lagi dan kurangilah rasa kuatir itu.
Berhentilah menangani perkara yang tidak harus Anda tangani. Berhentilah untuk menghancurkan diri sendiri pada hari ini dengan mengkuatirkan hari kemaren atau hari esok.

Kita harus berhenti menyia-nyiakan “saat sekarang ini” yaitu hari yang berharga yang adalah milik kita, karena “saat sekarang ini” tidak pernah akan datang lagi. Saat Anda dicobai supaya merasa kuatir atau resah tentang sesuatu khususnya yang berkaitan dengan masa lalu atau masa depan, pikirkanlah tentang apa yang sedang Anda kerjakan sekarang dan belokkan pikiran Anda pada apa yang sedang berlangsung hari ini.

Belajarlah dari masa lalu, Bersiaplah untuk masa depan, tetapi Hiduplah dalam masa kini.

2. Kekuatiran akan Konfrontasi dan Percakapan

Markus 13:11
Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus.

Yesus menasehatkan para murid-murid-Nya agar mereka tidak usah menjadi kuatir dengan apa yang harus mereka katakan atau bahkan yang mereka coba pikirkan tentang hal itu, karena ketika mereka membuka mulut mereka untuk berbicara, itu bukanlah mereka yang berbicara melainkan Roh Kudus yang berdiam di dalam mereka.

Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam hidup saya untuk mereka-reka apa yang akan saya katakan kepada orang-orang itu. Saya membayangkan apa yang akan mereka katakan kepada saya, kemudian saya mencoba mereka-reka lagi apa yang akan saya katakan kembali kepada mereka. Dalam kepala saya, saya bahkan mempraktekkan percakapan-percakapan imajiner itu berkali-kali.

Anda mungkin melakukan hal yang sama, sebagai contoh, sebelum Anda masuk ruangan atasan Anda untuk meminta waktu karena ada kebutuhan khusus. Kalau Anda dipenuhi dengan kekuatiran, itu mungkin merupakan suatu tanda bahwa Anda memikirkan hasil dari percakapan itu. Hal itu menunjukkan bahwa Anda lebih tergantung pada diri Anda sendiri dan kemampuan Anda, bukan pada Roh Kudus dan kuasa-Nya.

Kalau kita yakin bahwa kita sedang melakukan firman Tuhan dan hidup dalam ketaatan kepada kehendak-Nya, maka kita tidak perlu kuatir atau gelisah tentang apa yang akan kita katakan kepada orang lain.

Memang, kita perlu mempersiapkan diri dengan baik, tetapi jika kita secara berlebihan melatih percakapan kita itu berulang kali, maka hal itu merupakan petunjuk bahwa kita tidak mempercayai pengurapan Roh Kudus, tetapi kita mengandalkan kemampuan diri kita sendiri.

Kita perlu memohon Tuhan menolong kita ketika kita berbicara dengan semua orang yang kita jumpai. Maka kita dapat menjadi yakin bahwa apa pun hasil dari percakapan atau konfrontrasi kita merupakan kehendak dari Tuhan dan pasti akan menghasilkan yang terbaik bagi semua pihak (Roma 8:28).

3. Kekuatiran akan tugas dan kewajiban dari Hari Ini

Kisah Marta di dalam Injil Lukas 10:38-42 menggambarkan tentang Marta, seorang yang sedang jengkel dan uring-uringan karena ia terlalu serius dan terlalu sibuk. Sementara Maria, saudara perempuannya, dengan tenang dan bahagia duduk di dekat kaki Tuhan Yesus sambil menikmati hadirat dan perkataan-Nya.

Saya yakin bahwa segera setelah Marta mendengar Yesus sedang datang ke rumahnya, ia mulai sibuk ke sana kemari membersihkan dan menggosok supaya perabotannya mengkilat, ia memasak dan berusaha menyiapkan segala sesuatu menjelang kedatangan-Nya. Kesibukannya ini telah membuat Marta menjadi resah dan kuatir.

Tuhan tidak menegor Marta karena ia sibuk bekerja, namun Tuhan menegornya karena ia merumitkan hal yang sederhana, ia begitu resah dan kuatir di dalam kesibukannya itu. Tuhan ingin Marta bisa menikmati hidup dengan baik, dengan menyerderhanakan tugas dan kewajibannya itu, melakukannya dengan tenang.

Kita harus belajar menjadi lebih menyerupai Maria dan kurang menyerupai Marta. Sebagai ganti dari kekuatiran dan keresahan, kita perlu belajar untuk menyederhankan rencana-rencana kita. Bergembira dan menikmati hidup ini!

Filipi 4:6-7
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Tuhan Yesus memberkati.