Orang Besar…

Pada saat Abraham Lincoln masih jadi pengacara muda,
ia sering berkonsultasi dengan pengacara lain tentang kasusnya.

Pernah salah seorang pengacara melihat Lincoln sekilas,
saat dia duduk di ruang tunggu untuk menjumpai pengacara itu.

“Apa yg dia lakukan di sini? Singkirkan dia! Aku tidak akan berurusan dengan seekor monyet kaku seperti itu!”

Lincoln berpura-pura tidak mendengar, walaupun dia tahu kalau hinaan itu disengaja. Biarpun malu, dia tetap bersikap tenang.

Ketika pengadilan berlangsung, Lincoln diabaikan.

Dia disisihkan tempat duduknya.
Pengacara yang begitu kejam menghina Lincoln itu,
ternyata membela kliennya dengan sangat brillian.
Penalarannya sangat bagus. Penanganannya atas kasus membuat Lincoln terpesona.

Lincoln berkata, “Dia memang hebat, Argumennya tepat dan sangat lengkap. Begitu tertata dan benar- benar dipersiapkan. Aku akan pulang dan lebih giat belajar hukum lagi”

Dan waktu-pun berlalu.

Abraham Lincoln menjadi presiden. Di antara penasehat utamanya, terdapat Edwin M. Stanton, pengacara yang pernah menghinanya dan melukai hatinya begitu dalam.

Lincoln mengangkatnya di posisi penting sebagai Sekretaris Perang karena Lincoln tidak pernah melupakan bahwa pengacara yang kata-katanya brutal itu merupakan pengacara berotak cerdas yang amat dibutuhkan negaranya.

Saat Lincoln meninggal, Stanton berkata, “Dia merupakan mutiara milik peradaban”

Hanya seseorang yang berkarakter dan punya semangat pengampunan seperti Lincoln, dapat bangkit dan berhasil di atas penghinaan Stanton.

Mari Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain menentukan buruknya cara kita bertindak. Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yg tdk baik.

Jangan masukan “sampah” ke hati. Belajarlah memafkan, karena memaafkan itu kunci keberhasilan.
Jadikan “sampah” sebagai “pupuk” ataupun “bahan bakar” untuk maju, baik di lingkungan keluarga, kerja atau dimanapun juga…

Tuhan memberkati