Kesabaran dan Penguasaan Diri

Ada 2 hal yang harus kita miliki untuk mendapatkan berkat, mujizat, kemenangan dan keselamatan di dalam Kristus:
1. Kesabaran
2. Penguasaan Diri

Kesabaran adalah sebuah kualitas karakter yang tahan untuk meghadapi penderitaan, kesulitan dan kesedihan. Kesabaran itu dihasilkan oleh karena adanya pengharapan akan janji firman Tuhan.

Amsal 16:32
Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”

Seorang dikenang sebagai pahlawan oleh karena perjuangan dan jasa-jasanya yang tidak pernah mengenal lelah untuk membela kepentingan orang lain atau bangsanya.

Bisakah Anda membayangkan bahwa “Orang yang sabar itu melebihi seorang pahlawan?” Rupanya kesabaran dihasilkan oleh kerelaan meletakkan ambisi, ego, kepentingan diri sendiri, demi nama Tuhan dimuliakan.

Salah satu ujian iman adalah dalam bentuk kesabaran.
Iman selalu berkaitan erat dengan kesabaran.
Saya menilai bahwa Kesabaran itu adalah hasil dari sebuah hubungan kasih dengan Tuhan. Alkitab menjelaskan definisi Kasih yang pertama: Kasih itu Sabar (1 Korintus 13:4).
Kesabaran adalah salah satu dari buah Roh.

Pasangan kesabaran adalah penguasaan diri.
Penguasaan diri adalah kemampuan untuk mengekang apa yang “ingin dilakukan” dan kemampuan untuk melakukan “apa yang seharusnya” dilakukan.

Hidup itu akan sukses dan bahagia apabila kita tahu membedakan, mana yang harus kita lakukan (tahu kewajibannya) dan mana yang ingin kita lakukan (hanya keinginan).

Kesabaran dan penguasaan diri itu ibarat dua sisi mata uang. “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32)

Kemampuan untuk menaklukkan diri sendiri diganjar dengan hadiah kuasa dan otoritas. “Orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”

Kisah seorang pegawai istana yang anaknya sakit hampir mati menjelaskan bagaimana Kuasa Allah bekerja oleh karrna adanya iman yang ditopang oleh kesabaran dan penguasaan diri.

Yohanes 4:46-54
46 Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit.
47 Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada- Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati.
48 Maka kata Yesus kepadanya:”Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.”
49 Pegawai istana itu berkata kepada- Nya:”Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.”
50 Kata Yesus kepadanya:”Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.
51 Ketika ia masih di tengah jalan hamba- hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup.
52 Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka:”Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.”
53 Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya:”Anakmu hidup.” Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya.
54 Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

Pada saat pegawai istana itu mendengar bahwa Yesus datang melawat kotanya, maka ia meminta Yesus datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Tetapi jawab Yesus, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” (Yohanes 4:48).

Bukankah itu terdengar kasar? Yesus menghardik orang yang imannya hanya selalu mencari tanda dan mujizat (bukti). Yesus menguji iman pegawai istana lewat “Kesabaran dan Penguasaan Dirinya.” Yesus menguji motivasi pria ini yang mencari pertolongan-Nya. Pria ini ternyata LULUS sebab imannya ditopang oleh Kesabaran dan Penguasaan Diri.

Kesabaran dan Penguasaan Dirinya didasarkan karena adanya kasih dan kepeduliaannya terhadap hidup anaknya yang sedang sakit hampir mati. Ia tidak mengejar pertunjukkan spektakuler. Ia hanya ingin anaknya sehat kembali.

Ada kalanya apa yang kita minta kepada Tuhan justru jawabannya adalah kebalikan dari permintaan kita.

Yohanes 4:49-50
Pegawai istana itu berkata kepada- Nya:”Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya:”Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.

Respon pria itu adalah ia percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.
Permintaan doanya adalah “datanglah sebelum anakku mati,” namun jawaban Tuhan adalah “pergilah, anakmu hidup.”

Iman pria ini membuktikan bahwa ia percaya akan Tuhan lewat perkataan yang dikatakan Tuhan. Dasar sebuah hubungan dengan Tuhan adalah percaya akan perkataan yang dikatakan Tuhan kepada kita yang disertai dengan “kesabaran dan penguasaan diri.”

Paskah di Jerusalem 2000 tahun lalu adalah hasil kesabaran dan penguasaan diri Yesus dalam menghadapi penderitaan, kekerasan, kesusahan, kesedihan, dan kematian yang mengerikan di kayu salib!

Yesus belajar sabar menanggung dalam penderitaan-Nya untuk kita. Yesus telah menguasai diri-Nya untuk tidak membalas orang-orang yang melukai dan menyiksa diri-Nya sekali pun Dia memiliki kemampuan untuk melawan.

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32).

Kesabaran Yesus membuatnya lebih dari seorang pahlawan; dan Allah memberikan kepada Yesus Kristus, nama di atas segala Nama, otoritas dan kuasa diberikan kepada Yesus Kristus, yang telah menang, karena Dia telah berhasil menguasai diri dan menjadi sabar dalam penderitaan-Nya!

Filipi 2:8-10
8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri- Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada- Nya nama di atas segala nama,
10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11 dan segala lidah mengaku:”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Tuhan Yesus memberkati