Pergumulan yang paling sulit yang terjadi di dalam diri kita adalah ketika kita akan meninggalkan satu tahap kehidupan untuk memasuki tahap kehidupan lainnya.
Seperti seorang anak balita memasuki bangku sekolah; seorang sarjana yang akan memasuki dunia usahanya/pekerjaannya; seorang pejabat yang akan memasuki masa pensiun; dan sebagainya.

Perumpamaan dalam Injil Lukas 16:1-13 mengenai orang kaya menggambarkan mengenai Allah yang pada suatu waktu tertentu, kita tidak tahu kapan waktunya, akan memanggil kita satu per satu dan mempertanyakan apa yang telah kita lakukan dengan apa yang telah Ia berikan kepada kita.

Bendahara di sini bukanlah pemilik melainkan seorang pengelola dari seluruh kekayaan milik tuannya. Ia dipanggil tuannya untuk mempertanggung jawabkan harta milik tuannya yang sekarang ada padanya dan selanjutnya ia tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.

Bukankah kita pun adalah pengelola dari semua pemberian Tuhan berupa talenta, waktu, pekerjaan, keuangan, keluarga, pelayanan dan bahkan hidup kita sendiri. Suatu hari kelak kita semua juga harus memberikan pertanggungjawaban tentang setiap hal ini kepada Tuhan. Saat-saat itu dapat merupakan suatu masa yang sulit bagi kita.

Bendahara ini dipuji oleh Tuhan Yesus bukan karena ketidakjujurannya, dia dipuji Tuhan oleh karena kecerdikannya. Kita alan belajar dari kecerdikan Bendahara itu ketika ia dipanggil untuk menghadap Tuannya, ketika ia menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya. Bendahara ini tahu bahwa kesempatannya untuk bekerja di perusahaan itu akan berakhir. Ia harus segera bertindak supaya pada waktu dipecat ia sudah punya jalan keluar.

Prinsip Pertama, Bendahara itu mengetahui bahwa kekayaan hidup yang tertinggi bukanlah UANG melainkan Persahabatan.
Lukas 16:4
“Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.”

Bendahara itu tidak takut menggunakan uang untuk mengikat persahabatan. Ia menyadari bahwa uang tidaklah sepenting persahabatan. Andaikata ia bisa menggunakan uang dengan bijak, maka ia bisa memperoleh sahabat lebih banyak. Kekayaan tidak pernah diukur dari segi keuangan melainkan selalu dari segi persahabatan. Hukum kasih menjelaskan bajwa hubungan kita dengan sesama merupakan gambaran dari hubungan kita dengan Tuhan.

Bendahara itu mengerti bahwa uang bisa diperoleh dari sahabat. Asalkan kita masih memiliki banyak sahabat, sekalipun kita sedang mengalami krisis maka Tuhan bisa memberikan kita jalan keluar melalui para sahabat kita. Jika krisis yang kita alami adalah kegagalan dalam bisnis, kemerosotan ekonomi, resesi atau lebih buruk lagi maka para langganan; supplier; pemilik-pemilik modal yang bersahabat akan tetap melakukan bisnis dengan kita.

Prinsip Kedua, Bendahara itu membuat Persiapan untuk masa depannya.
Lukas 16:3
“Kata bendahara itu di dalam hatinya:Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.”

Gagal mempersiapkan diri berarti mempersiapkan diri untuk gagal.
Ketika menghadapi krisis, bendahara itu tidak kehabisan akal melainkan dengan cerdik membuat suatu persiapan untuk masa depannya. Di sini kita melihat betapa pentingnya membuat suatu persiapan untuk hari esok, khususnya membuat persiapan untuk kehidupan yang kekal.

Seringkali, dalam soal-soal duniawi kita mempersiapkan diri kita dengan serius seperti untuk masuk sekolah; bekerja di suatu perusahaan; atau persiapan untuk menikah. Namun seringkali, kita tidak punya persiapan apa-apa untuk yang paling penting dari segala sesuatu yaitu kehidupan yang kekal.

Apa gunanya kita hidup enak dan baik di dunia ini tetapi tidak pernah bersiap-siap untuk memasuki kekekalan? Bukankah kita semuanya tahu bahwa kelak kita akan meninggalkan dunia ini, orang yang mengetahui hal ini tetapi tidak melakukan persiapan apa pun adalah orang yang sangat bodoh.

Keputusan yang paling penting yang patut diambil oleh setiap orang untuk memasuki kekekalan adalah menjadikan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat atas hidupnya.
Sembahlah Yesus, layanilah Dia seumur hidupmu.

Prinsip Ketiga, Bendahara itu mengerti bahwa ia masih mempunyai kedempatan untuk memulai suatu kehidupan yang baru.
Lukas 16:3-4
“Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.”

Tidak ada sesuatupun di dalam hidup ini yang bersifat tetap bahkan keberadaan diri yang kita alami pada usia setengah baya pun bukanlah sesuatu yang bersifat menetap. Satu-satunya kekekalan yang kita miliki adalah Roh Kudus dan Firman-Nya, “langit dan bumi akan berlalu tetapi firman-Nya tetap.”

Sahabat-sahabat kita akan terus berganti, kota-kota akan berubah, bisnis akan berubah-ubah dan kita sebagai individu akan terus berubah segala sesuatu berubah-ubah. Setiap perubahan menimbulkan krisis dan kesulitan namun melalui kesulitan kita akan mencapai kedewasaan.

Bendahara itu berhadapan dengan situasi yang sulit, tetapi ia mempersiapkan dirinya untuk meninggalkan satu profesi, memulai sebuah karir baru, mengembangkan persahabatan baru, meninjau kembali gaya dan cara hidup yang telah ditempuhnya di masa lalu.

Yohanes 11:25
Jawab Yesus:”Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada- Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,