Ratapan 3:31-32
“Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya.”

Apa yang Anda lakukan ketika dunia terasa mau runtuh yaitu di saat Anda mendengar kebakaran telah membakar habis harta benda Anda, atau di saat Anda mendapat berita bahwa hasil test darah adalah kanker, dan umur Anda tinggal beberapa bulan lagi; di saat pasangan Anda menuntut cerai; di saat orang yang Anda dicintai meninggal dunia; di saat Anda terkena PHK; atau di saat uang Anda habis dibawa lari orang.

Sesuatu yang lancar dan indah awalnya, beberapa menit kemudian “badai” datang menghantam hidup Anda, semuanya rencana hancur berantakan. Lalu apa yang harus dilakukan?

Seluruh isi Alkitab berhubungan dengan pertanyaan ini. Salah satu Kitab di Alkitab yaitu Kitab Ratapan, yang ditulis oleh Nabi Yeremia yang menyaksikan kehancuran kota Yerusalem dan Penawanan orang Israel ke Babel. Nabi Yeremia ini meratapi bangsanya kepada Tuhan lewat Kitab Ratapan ini:

Tentang keadaan bangsa; tentang kehancuran ekonomi bangsanya; tentang kelaparan; kejahatan dan ketidakadilan; dan tentang penawanan bangsanya sebagai budak di Babel.

Di tengah-tengah Kitab Ratapan ini, firman Tuhan yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16), Tuhan menunjukkan kepada kita bagaimana mengatasi perasaan yang hancur di saat dunia terasa runtuh.

Apa yang harus dilakukan ketika dunia terasa runtuh?
1. Ketika dunia terasa runtuh, ceritakan dan ungkapkanlah perasaan Anda kepada Tuhan (Ratapan 3:1-10)

Nabi Yeremia mengungkapkan isi hatinya kepada Tuhan. Dia menceritakan kepada Tuhan apa yang dia rasakan dan alami pada saat itu. Apakah boleh begitu? Jawabannya ya boleh saja. Tuhan ingin Anda melepaskan semua perasaan kecewa, gelisah, takut dan marah Anda.

Janganlah “membuang” beban Anda kepada pasangan Anda, anak Anda, orang tua Anda, boss Anda, atau mengungkapkan perasaan Anda lewat status Anda di facebook atau blackberry. Bawalah beban Anda dan ungkapkanlah kepada Tuhan sebab Dia dapat mengatasi semua masalah hidup Anda.

Bukan soal besar atau kecilnya beban hidup tetapi seberapa lama beban itu Anda pikul. Beban hidup yang selalu dipikirkan, direnungkan, dibicarakan, dibicarakan lagi akan mengeluarkan energi negatif yang dapat merusak diri Anda sendiri.

Jika Anda terus memikul sendiri beban Anda, maka hal itu akan menimbulkan stress berkepanjangan, membuat sulit tidur, gelisah, dan berujung kepada munculnya penyakit kronis.

Tuhan sanggup mengatasi ketakutan Anda, kemarahan Anda, rasa kecewa dan keluh kesah Anda. Dia ingin Anda “melepaskan” atau menanggalkan beban Anda kepada Dia, dan Dia mau memberikan Anda kelegaan.

Matius 11:28
“Marilah kepada- Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Mungkin Anda tidak mengerti mengapa semua ini bisa terjadi dalam hidup Anda, mengapa Tuhan mengizinkan badai datang dalam hidup Anda. Namun ingat, Tuhan tidak berkewajiban untuk menjelaskannya kepada Anda sebab Dia Tuhan yang berdaulat. Tetapi suatu hari kelak Anda akan mengerti, bahwa semua itu terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi Anda yang mengasihi Dia. Tetaplah percaya dan sembahlah Dia.

2. Ketika dunia terasa runtuh, fokuslah pada kasih Tuhan (Ratapan 3:19-26)

Saat dunia terasa runtuh, mudah sekali untuk menaruh perhatian atau berfokus pada masalah dan kesulitan. Hal ini adalah reaksi yang biasa. Tetapi Alkitab mengajarkan kita untuk mengalihkan fokus perhatian kita dari penderitaan dan kesulitan kepada besarnya kasih Tuhan atas hidup kita.

Sekali pun Anda merasa kecewa atau merasa Tuhan begitu jauh dari Anda; cobalah ingatkan diri Anda dan mulailah pikirkan kebaikan Tuhan atas hidup Anda, betapa besarnya kasih Yesus itu. Dia telah menyelamatkan dan memberikan Anda hidup kekal, Dia telah memelihara hidup Anda, cobalah ingat-ingat kebaikannya dan ucapkan syukur kepada-Nya atas kebaikan-Nya itu.

Daud mengingat kebaikan Tuhan dengan bersyukur lalu ia menyaksikan bahwa Tuhan memuaskan hasrat hatinya dengan segala kebaikan setelah Dia tahu mengucap syukur (Mazmur 103:1-5).

Ratapan 3:19-20
“Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu. Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.”

Nabi Yeremia awalnya menaruh perhatian kepada kesukaran dan penderitaan hidupnya, hasilnya adalah jiwanya tertekan (depresi) dan menjadi pahit hatinya.

Jika Anda ingin mengubah hidup Anda, Anda harus mengubah apa yang Anda pikirkan. Yeremia melakukan hal ini! Kita dapat melihat bagaimana Nabi Yeremia mengubah fokus perhatiannya dari kesengsaraannya kepada kasih Tuhan.

Ratapan 3:21-24
Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.”

Ketika Anda merasa sepertinya Anda telah kehilangan segalanya, berhentilah menaruh perhatian pada apa yang hilang dan hancur, tetapi mulailah berfokus pada apa yang masih ada di tangan Anda yaitu Tuhan Yesus dan Kasih-Nya yang tak berkesudahan itu.

3. Ketika dunia terasa runtuh, cobalah berdiam diri untuk menantikan Tuhan dengan menguasai diri dan menjadi tenang
Ratapan 3:28-29

Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya. Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan.”

Prinsip berdiam diri dan menantikan Tuhan adalah sebuah latihan atau disiplin rohani untuk membangun kekuatan manusia batiniah kita. Prinsip ini adalah satu-satunya obat penangkal kegelisahan dan tekanan hidup.

Berdiam diri untuk menantikan Tuhan adalah sebuah latihan yang harus dilakukan untuk melepaskan beban hidup Anda. Jika Anda gagal atau tidak mau melakukan latihan rohani ini, maka Anda akan hidup dalam keadaan yang tertekan dengan beban yang terus menerus Anda pikul sepanjang hidup Anda. Hal ini dapat menimbulkan gangguan tidur, gangguan dalam pencernaan, dan bila terus berlanjut maka dapat berakibat kepada penyakit kronis.

Bukan berat atau ringannya beban, tetapi lamanya beban yang Anda pikul itulah yang dapat menghancurkan hidup Anda.

Rudy Hartono, juara dunia bulutangkis, Maestro Indonesia, pernah bercerita kepada saya bahwa olah raga itu hanya untuk kebugaran tubuh, namun untuk kesehatan itu tergantung hati dan pikiran. Ia bercerita bahwa ia pernah mengalami operasi bypass jantungnya.

Bukankah olahragawan seharusnya orang sehat?
Ia bercerita bahwa ia mengalami stress dan tekanan hebat setiap kali memghadapi pertandingan sebab ia menanggung beban harus menang. Ia harus dapat mempertahankan gelar juara itu. Bertahun-tahun ia mengalami tekanan hebat sebagai seorang juara, keadaan itulah yang membuatnya menjadi tidak sehat dan sakit. Namun sekarang ia telah mahir bagaimana menanggalkan beban hidupnya supaya ia dapat memikul beban Tuhan untuk melayani-Nya.

Apakah artinya berdiam diri dan menantikan Tuhan?
Cobalah Anda duduk diam sendirian, carilah tempat yang sunyi tanpa gangguan, tanpa hape, blackberry atau apapun, Anda tidak perlu membaca apa-apa dan tidak ada doa permintaan, tarik nafas dalam-dalam dan berkatalah dengan lembut: “Tuhan, aku duduk menantikan Engkau, untuk mendapatkan kekuatan baru.”

Yesaya 40:31
Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru … Mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

4. Ketika dunia terasa runtuh, Anda perlu membuat beberapa perubahan hidup.
Ratapan 3:40

Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN.”

Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak dapat Anda ubah. Anda tidak bisa mengubah masa lalu atau sifat bawaan seseorang. Jika Anda mau memiliki damai sejahtera maka belajarlah untuk menerimanya.

Anda pun tidak bisa membawa kembali seorang yang Anda kasihi yang sudah meninggal dunia; Anda tidak dapat mengubah orang-orang lain, sebesar apa pun usaha Anda mengubahnya tidak akan bisa berubah. Namun ada satu hal yang bisa Anda ubah yaitu diri Anda sendiri.

Anda dapat mengubah sikap, reaksi, respon dan skill Anda. Anda dapat mengubah karakter dan nilai hidup Anda. Anda dapat mengubah cara Anda menggunakan waktu dan apa yang penting dalam hidup Anda.

Untuk melakukan perubahan hidup, Anda harus melakukan evaluasi diri. Evaluasi diri membutuhkan kejujuran terhadap diri sendiri. Anda harus berani mengakui bidang-bidang tertentu dalam hidup Anda yang salah, gagal dan hancur:

Cobalah periksa bagian-bagian hidup Anda yang salah dan gagal: Hubungan saya dengan keluarga, sahabat, boss. Hubungan saya dengan Tuhan, bagaimana kebiasaan dan karakter saya? Adakah kebiasaan buruk yang dapat menghancurkan hidup saya?

Ketika Anda mulai melakukan evaluasi diri, Anda akan menyadari bahwa banyak perasaan Anda seperti: rasa bersalah, marah, kekecewaan, kesedihan, ketakutan yang muncul ke permukaan. Lalu cobalah bawa semua perasaan itu kepada Tuhan; berdoalah mohon anugerah-Nya untuk mengubah Anda, menyembuhkan luka-luka Anda. Berjalanlah dengan iman!

Marilah kita berdoalah seperti doa Nabi Yeremia demikian:
Ratapan 5:21

Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala!”

Tuhan Yesus memberkati