Seorang pakar dalam membesarkan anak mengingatkan kita,

Bila seorang anak hidup dengan ejekan, ia belajar menjadi pemalu sedangkan bila seorang anak hidup dengan semangat, ia belajar kepercayaan diri.

Nasihat ini membuktikan bahwa perkatan yang diucapkan orangtua kepada anaknya menentukan kepribadian dan masa depan anaknya.

Bukankah nasihat tentang kuasa perkataannya telah dituliskan dalam Alkitab?

Pentingnya perkataan:

  1. Keselamatan itu dihubungkan dengan perkataan kita
    “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. (Roma 10:8-10)
  2. Menjalani hari-hari yang baik dan penuh berkat sangat ditentukan oleh perkataan kita.
    “dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab: 10 “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”. (1 Petrus 3:10)
  3. Perkataan kita sangat berdampak pada emosi orang lain
    “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” (Amsal 15:1)
  4. Perkataan yang baik dapat menyembuhkan penyakit tulang
    “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” (Amsal16:24)
  5. Perkataan kita bisa menghadirkan malaikat
    Pengakuan iman merupakan inti kekristenan. Dalam kenyataannya, kekristenan sering disebut sebagai “Pengakuan Iman yang Dasyat!”“Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab, Ia yang menjanjikannya, setia.”(Ibrani 10:23) Yesus adalah Imam Besar bagi pengakuan iman kita.Setelah Daniel berdoa selama dua puluh satu hari, seorang malaikat datang kepadanya dan berkata,
    “Aku datang oleh karena perkataanmu itu” (Daniel 10:12).

    Para malaikat datang oleh karena perkataan Anda. Jika Anda mengucapkan ketakutan, kemalangan, bencana, dan ketidakpercayaan, itu hanya akan membuat mereka melipat sayap mereka! Tetapi, apabila Anda mengucapkan firman Allah dengan iman, para malaikat akan mendengarkan perkataan anda.

  6. Perkataan kita bisa mendatangkan berkat dan kutuk
    Menyadari bahwa perkataan sangat berkuasa, baiklah kita berhati-hati dalam mengeluarkannya sebab firman Tuhan berkata:

    Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah (Yakobus 3:9)

    Bila demikian, Bagaimanakah agar perkataan kita berkuasa untuk membangun dan memberkati orang lain?

[divider]

Cara menjaga perkataan:

[box type="info" align="alignleft" ]

Pertama, jagalah hati, isi pikiran dengan Firman Allah

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”(Amsal 4:23)

Apakah hubungan antara hati dan perkataan?

Hubungannya sangat dekat sekali, karena bila kita sedang marah, kecewa, kepahitan biasanya perkataan amarah, kekecewaan dan kepahitan pula yang keluar dari mulut bibir kita dan hal ini tentunya tidak menjadi berkat.

Namun bila hati kita bersih, suci dan penuh sukacita maka perkataan kita juga suci, bersih dan memberkati. Bukankah dari dalam hati terpancar kehidupan?

“Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. 34 Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. 35 Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (Matius 12:33-35)

[/box]
[box type="info" align="alignleft"]

Kedua, seleksi apa yang Anda dengar

“Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah TELINGAMU kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.” (Ams 4:20-22)

[/box]
[box type="info" align="alignleft"]

Ketiga, berpikirlah Sebelum berkata-kata

“Maka sangat marahlah aku, ketika kudengar keluhan mereka dan berita-berita itu. Setelah berpikir masak-masak, aku menggugat para pemuka dan para penguasa. Kataku kepada mereka: “Masing-masing kamu telah makan riba dari saudara-saudaramu!” Lalu kuadakan terhadap mereka suatu sidang jemaah yang besar.” (Nehemia 5:6-7)

“Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.” (Amsal 13:3)
“Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu.” (Amsal 4:24)

Hal ini dilakukan agar perkataan yang kita keluarkan mengalami penyaringan/pemilahan terlebih dahulu. Oleh karena itu, baiklah kita mencoba untuk tenang dan berpikir terlebih dahulu akan perkataan yang hendak kita sampaikan agar perkataannya tidak salah/mengutuk sebab perkataan yang telah keluar tidak bisa ditarik kembali.

[/box]

[box type="info" align="alignleft"]

Keempat, dapatkan kata-kata yang berasal dari Tuhan / Roh Kudus

“Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.” (1 Kor 2:12-13)

[/box]

[box type="info" align="alignleft"]

Kelima, perkatakan iman Anda

“Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.” (2 Korintus 4:13)

“Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini : Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percayalah, bahwa apa yang dikatakan baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu, apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:23,24)

[/box]

[box type="info" align="alignleft"]

Keenam, perkatakanlah kebenaran

“Bibir yang mengatakan kebenaran tetap untuk selama-lamanya, tetapi lidah dusta hanya untuk sekejap mata” (Amsal 12:19)

“Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin” (1Petrus 4:11)

Untuk dapat memperkatakan kebenaran, orang percaya harus mengisi pikiran dan hatinya dengan kebenaran yaitu Firman Tuhan. Alangkah luarbiasanya orang percaya bila yang diperkatakan adalah Firman Tuhan, tentunya orang lain disekitar kita mengalami berkat dan kasih Allah.

“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung” (Yosua 1:8)

[/box]

Penutup

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. 37 Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:36)

“Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” 7 Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.” ( Ayub 42:6)