Pengharapan sangat diperlukan untuk melihat iman yang semakin besar.
Pengharapan harus ditopang oleh iman dan kesabaran, sebab pengharapan yang tidak ditopang oleh firman iman dan kesabaran akan membawa kekecewaan (Ibrani 6:12-15)

Pengharapan adalah dasar yang penting bagi lahirnya mujizat; baik itu kesembuhan ilahi; berkat ilahi ataupun pemulihan hidup. Oleh karena itu apabila kita gagal untuk berharap maka iman kita akan sulit bekerja.

Seorang pengemis lumpuh di Pintu Gerbang Indah adalah sebuah contoh seorang yang memiliki pengharapan yang kuat. Ia hanya berharap mendapat sedekah tetapi justru ia mendapatkan kesembuhan dan hidupnya diubahkan (Kisah 3:1-7).

Bagaimana menumbuhkan pengharapan itu?
Cobalah meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan firman sebab kita akan mengalami kesulitan membangun pengharapan yang kuat bilamana tidak ada waktu untuk merenungkan firman Tuhan [Mazmur 1:1-3]. Tuliskanlah pengharapan Anda dalam sebuah buku atau sebuah papan; beritahukanlah kepada orang-orang yang mendukung Anda; ucapkanlah syukur kepada Tuhan atas pengharapan itu.

Bagaimana memelihara dan menumbuhkan pengharapan itu?
Pertama, Orang yang berharap adalah orang yang mengetahui kapan waktunya ia harus berdoa.

Filipi 4:6
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Apakah ‘kekuatiran’ itu baik dan berguna? Mengapa kita mengunci semua pintu rumah setiap malam atau bila hendak meninggalkan rumah? Jawabannya adalah supaya terlindungi dari perampokan. Jadi sebenarnya kekuatiran adalah sebuah perasaan yang diberikan Tuhan untuk menyadarkan kita agar berjaga-jaga dan berdoa. Kekuatiran seringkali timbul oleh karena adanya masalah.

Kekuatiran itu ibarat sebuah alarm yang disetting pada saat kita harus bangun dan terjaga dari tidur. Tetapi apabila kita sudah terbangun dari tidur maka bunyi alarm itu harus dihentikan agar tidak mengganggu hidup kita sepanjang hari itu.

Kekuatiran itu harus segera disingkirkan, sebab kekuatiran itu mengganggu kenyamanan hidup kita. Kita tidak boleh hidup dalam kekuatiran sepanjang hari. Kekuatiran itu akan membunuh pengharapan kita. Itulah sebabnya Tuhan perintahkan kita untuk berdoa pada saat kita kuatir.

Kekuatiran adalah memikiran dan mengatakan apa yang tidak kita inginkan itu terjadi sebaliknya dengan berdoa, kita memikirkan dan mengatakan kepada Allah apa yang kita harapkan dan inginkan itu terjadi. Melalui doa, kita menyingkirkan kekuatiran dan mendatangkan damai sejahtera Allah untuk memelihara hati dan pikiran kita.

Kita tidak dapat menerima mujizat dari Tuhan bilamana kekuatiran menguasai hati dan pikiran kita, sebaliknya damai sejahtera Allah yang harus menguasai hati dan pikiran kita agar benih iman dan pengharapan terus bertumbuh sampai Tuhan menyatakan janji-Nya dalam hidup kita.

Kedua, orang yang berharap mengetahui apa yang dapat ia kendalikan dan apa yang tidak dapat dikendalikannya

Matius 6:27
“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya.”

Apabila kita mengetahui apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak bisa kendalikan maka saya yakin bahwa kita akan dapat memelihara dan menumbuhkan pengharapan kita kepada Tuhan.

Apabila Anda sudah berdoa dengan tekun, melakukan perintah Tuhan untuk mengasihi, Anda sudah berusaha dengan keras namun belum membuahkan hasil, maka itulah saatnya Anda memperbesar pengharapan Anda. Pada saat itulah Anda menyerahkan segalanya kepada Tuhan maka Ia akan bertindak dan memberikan apa yang diinginkan hati Anda [Mazmur 37:4-5]

Ketiga, orang yang berharap adalah orang yang bisa menaruh pilihan yang tepat kepada siapa ia menaruh pengharapannya.

Yeremia 17:7-8
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar- akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”

Saya punya sahabat bernama Benny, ia seorang penderita penyakit diabetes yang cukup lama sehingga ginjalnya mengalami kerusakan. Ia harus cuci darah secara rutin di rumah sakit.

Berbulan-bulan ia berdoa dan berharap agar Tuhan Yesus menyembuhkan penyakit ginjalnya namun penyakitnya semakin bertambah parah. Ia pernah menyaksikan bahwa saudara-saudaranya yang lain telah menyarankan agar dia berobat ke ‘orang pinter’ atau pengobatan alternatif untuk kesembuhannya. Namun ia menolaknya, ia mengatakan bahwa ia percaya Tuhan Yesus sanggup menyembuhkan penyakitnya. Ia adalah seorang yang sangat mencintai Tuhan. Lagu satu-satunya yang dia ingat dan suka dia nyanyikan adalah “ku mau cinta Yesus selamanya.”

Pada suatu kali, ia harus dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU), ia menjelaskan penyakitnya dan keadaannya kepada kami. Ia berkata bahwa ia sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya, ia meminta kami berdoa apakah Tuhan akan menyembuhkannya? Sekalipun Tuhan tidak menyembuhkan, saya akan tetap percaya dan mengasihi Tuhan, begitulah pesannya pada saat itu.”

Hadirat Tuhan turun begitu kuat saat kami berdoa bersama untuknya di ruang ICU, kami merasakan hadirat Allah yang begitu kuat memenuhi ruangan itu, sambil berdoa dan menyembah ia terus memegang tangan saya sepertinya dia tidak mau melepaskan genggamannya itu.

Saya menangkap kesan bahwa ia sangat menaruh harapannya kepada Tuhan. Tuhan tidak memberikan kesembuhan, karena Tuhan sudah menyediakan sesuatu yang jauh lebih bagi sahabat saya ini. Tuhan membawanya “pulang” tidak berapa lama setelah kami berdoa dan menyembah bersamanya. Ia telah mengakhiri hidupnya dengan iman.

Ia telah menaruh pilihan yang tepat kepada siapa ia berharap. Ia tidak menaruh pengharapan kepada siapa pun yang lain kecuali kepada Tuhan Yesus Kristus. Pada saat ibadah penghiburan, saya memperhatikan jasad sahabat saya ini, nampak sekali ia begitu tenang seperti sedang tertidur dengan wajah yang cerah.

Sahabat saya ini telah menerima sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang ia telah minta selama ini. ia mendapatkan hidup kekal bersama Tuhan Yesus Kristus yang dikasihinya.

Tuhan sanggup memberikan apa yang kita minta dan doakan – itulah sebabnya kita harus mempunyai pengharapan yang kuat kepada-Nya. Namun ada kalanya Tuhan tidak mengabulkan permohonan doa kita karena Dia sudah menyediakan sesuatu pemberian yang jauh lebih baik – itulah sebabnya kita harus tetap menaruh pengharapan yang tepat, berharap hanya kepada Tuhan Yesus.