Tuhan Yesus Kristus mengungkapkan rahasia dari kerajaan-Nya yaitu, untuk menjadi besar hendaklah ia menjadi pelayan, untuk menjadi terkemuka hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Sesungguhnya, Yesus sedang menunjukkan alasan Dia datang ke dunia ini yaitu bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Pengusaha yang sukses memahami prinsip betapa pentingnya pelayanan itu. Seorang pengusaha sukses berkata,”seorang pelanggan yang dilayani dengan benar dan baik lebih berarti dan memberi dampak yang lebih besar daripada sebuah iklan senilai Rp100 juta.”

Siapakah yang harus kita layani?
Pertama, kita harus melayani Tuhan [Roma 6:13-23]

Melayani Tuhan berarti kita mau taat kepada-Nya di dalam setiap bidang kehidupan, bukan melayani kemauan kita. Melayani Tuhan bukan sekedar Anda datang ke gereja lalu melayani sebagai kolektan, pendoa syafaat atau bermain musik dan bernyanyi atau berkotbah. Melayani Tuhan berarti kehidupan yang mau mentaati perintah Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, kerinduan dan tindakan untuk menyenangkan hati Tuhan.

Suatu kali, Presiden Abraham Lincoln membeli seorang budak perempuan dengan tujuan untuk membebaskan dia dari perbudakan. Lincoln telah membayar lunas lalu menyerahkan “sertifikat kebebasan” kepadanya. Tetapi budak perempuan itu tidak memahami tindakan Lincoln. “Anda sudah bebas sekarang!” kata Lincoln kepada perempuan itu. “Apakah saya bebas melakukan apapun dan pergi kemanapun?” Tanya perempuan itu. “Ya, Anda sudah bebas sekarang, Anda bisa pergi kemanapun.” Jawab Lincoln.

Kemudian perempuan itu berkata,”Sekalipun saya sudah bebas, Anda telah membayar lunas dan saya bisa pergi kemanapun tetapi saya akan tetap tinggal bersama Anda dan saya melayani Anda sampai selama-lamanya.”

Rasul Paulus menggambarkan dalam kitab Roma 6:13-23, melayani Tuhan berarti kita tidak lagi menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi kita menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada Allah untuk digunakan menjadi senjata-senjata kebenaran. Sejak kita bertobat dan percaya kepada Kristus maka sejak saat itulah kita bukan lagi hamba dosa [seorang yang melayani keinginan dosa] tetapi menjadi hamba kebenaran [seorang yang melayani Tuhan].

Kedua, kita harus melayani sesama kita

Melayani orang lain membuat hidup kita menjadi lebih berarti. Apabila Anda menolak untuk melayani orang lain maka kehidupan Anda akan menjadi kering dan rusak. Melayani orang lain berarti menolong untuk menyelesaikan masalah mereka.

Ada kalanya kita dipanggil untuk melayani seseorang atau visi dari orang itu.
Seperti Timotius melayani Paulus, Yosua melayani Musa, Elisa melayani Elia dan Daud melayani Saul. Kebanyakan dari mereka melayani orang-orang yang luar biasa. Namun ada juga orang-orang yang kita layani adalah orang sulit dan kasar. Daud menemukan pemimpinnya, Saul, yang sulit dan kasar. Saul berusaha beberapa kali untuk membunuh yang Daud muda itu, tetapi Daud dengan sabar tetap melayani Saul. Itu adalah saat-saat penting bagi hidup Daud untuk membangun karakternya sebagai seorang raja di masa depan.

Melayani sesama bisa dengan menunjukkan kasih kita dengan cara: memperhatikan mereka; mendengarkan mereka; mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka atau mencari tahu apa yang menjadi kesukaan atau minat mereka.

Kualitas karakter sikap hati seorang hamba:
Izinkan saya mengenali kualitas sikap seorang hamba melalui kehidupan Ribka, istri Ishak, anak Abraham dari Kitab Kejadian 24:18-20. Ribka memiliki gaya hidup dan memiliki sikap hati seorang hamba. Ia tidak pernah bermimpi bagaimana sikap hatinya itu kelak akan membuka pintu-pintu kebesaran bagi kehidupannya.

Marilah kita bersama-sama belajar untuk menerapkan prinsip-prinsip pelayanan yang penuh kuasa berdampak besar dan mengubahkan sejarah dunia berdasarkan apa yang dilakukan Ribka terhadap Eliezer, bujang Abraham:

Pertama, pelayanan harus lahir dari kemauan yang kuat untuk menolong orang lain

“Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.” [Kejadian 24:19]

Ribka ingin memberkati Eliezer, orang asing itu. Ia tidak hanya menawarkan air kepada orang itu tetapi juga kepada unta-untanya sekalipun sumur itu sangat dalam. Seekor unta dapat minum 25 galon air sekali duduk, Eliezer membawa 10 ekor unta maka ia harus menyediakan 250 galon air agar untu-unta itu semuanya minum sampai puas. Ribka tidak pernah mengetahui bahwa Eliezer telah berdoa kepada Tuhan untuk menunjukkan seorang calon istri bagi ishak yaitu seorang gadis yang tidak hanya memberinya minum air tetapi juga untuk unta-untanya.

Pelayanan itu menyangkut masalah hati. Ribka tidak pernah berpikir bahwa kelak atas usahanya itu ia akan mendapat imbalan. Uang dapat dengan mudah mencuri hati yang tulus. Sekali kita menerima uang atas apa yang kita lakukan dengan tulus maka keinginan dan gairah kita bisa jadi tercemar. Petrus menasehati agar kita melayani Tuhan dengan hati yang tulus bukan karena uang. Melayani harus disertai kesukaan. Bukan digerakkan oleh adanya imbalan.

Kedua, Pelayanan itu harus cepat dan tangkas

“maka segeralah diturunkannya buyung itu ke tangannya, serta diberikannya dia minum…segeralah dituangkannya air yang dibuyung itu ke dalam palungan,…” [Kej 24:18-20]

Seorang pelayan sejati mengerjakan tugasnya dengan cepat dan tangkas. Pelayanan yang lambat adalah lebih buruk daripada tidak melayani sama sekali. Ribka mengerti bahwa arti kecepatan dalam melayani sebab kecepatan adalah hal yang pokok. Membuat orang lain menunggu lama bukanlah pelayanan. Kita akan kagum dengan orang yang cepat dan tangkas, yang dapat menyelesaikan tugas sebelum waktunya.

Pelayanan yang enak tidak pernah ada. Faktanya, pelayanan selalu membuat Anda lelah, memderita dan tidak merasa nyaman. Seorang pelayan melayani sepenuh waktu dan tidak hanya saat dirinya merasa nyaman [Lukas 17:7-8]

Ketiga, pelayanan itu berarti memberikan yang terbaik dan sampai tuntas.

“…sampai semuanya puas minum.” [Kejadian 24:19]

Ribka melakukan tugasnya dengan baik. Dia tidak mengerjakan dengan setengah hati. Dia menyelesaikan apa yang telah dia mulai. Nyatanya, dia melakukan lebih banyak dari yang diharapkan. Pelayanannya membuat orang itu terheran-heran.

Pelayan dari neraka melakukan tugasnya hanya apabila tugas itu menyenangkan dirinya. Mereka mengerjakan dengan terpaksa dan sambil marah-marah sehingga membuat orang lain menjadi tidak bahagia. Mereka tidak pernah menyelesaikan tugasnya dengan benar atau menyelesaikannya dengan benar. Mereka mengeluh terus tentang banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan. Mereka memberitahu Anda bahwa ia telah mengorbankan semuanya itu. Mereka mau menolong Anda tetapi mereka membuat perasaan Anda tidak enak. Pelayanan mereka tidak pernah gratis. Anda harus membayarnya.

Seorang pelayan sejati tidak bisa mengerjakan pekerjaan dengan asal-asalan. Mereka merasa bangga dengan apa yang mereka kerjakan dan selalu melakukan yang terbaik bahkan sering kali membuat orang-orang yang dilayaninya terheran-heran.

Tuhan berkenan memakai rahim Ribka untuk melahirkan Israel, melahirkan bangsa yang besar, melahirkan imam-imam dan nabi-nabi dan raja-raja, bahkan melalui Ribka, lahir Tuhan dan Juruselamat dunia, Raja di atas segala raja yaitu Yesus Kristus. Sejarah mencatat bahwa semuanya itu ditemukan oleh karena gaya hidup yang tidak mementingkan dirinya sendiri, Ribka memiliki sikap hati seorang hamba.
Pelayanan membuka pintu-pintu sorga dan menggerakkan tangan Tuhan untuk mencurahkan perbendaharaan-Nya ke atas hidup kita dan keturunan kita.

Kisah William Walkdorf Astor dan George C. Boldt:

Beberapa waktu yang lalu, pada suatu malam yang hujan dan penuh halilintar, seorang kakek tua dengan istrinya memasuki sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia.

Mereka mencoba menghindari hujan lalu mendekati front desk sambil berharap mendapatkan sebuah kamar untuk malam itu. “Apakah masih ada kamar untuk saya bermalam?” Tanya kakek tua itu. Petugas itu dengan senyuman ramah memperhatikan pasangan ini dan menjelaskan bahwa malam itu ada 3 buah pertemuan di kota itu. “seluruh kamar hotel telah terisi semuanya,” jawab petugas itu. “Tetapi saya tidak akan membiarkan Anda berdua menunggu di luar hotel sampai hujan berhenti pada pukul satu pagi ini.” Apakah Anda bersedia tidur di kamar saya? Kamar itu bukan yang terbaik tetapi kamar itu cukup nyaman untuk Anda tidur malam ini.

Ketika pasangan ini mulai bingung, petugas itu berkata,”Anda tidak perlu kuatir, saya akan membuat semuanya baik.” Lalu pasangan ini setuju.

Saat kakek tua ini membayar tagihan hotel itu, ia berkata kepada petugas itu,”Anda adalah seorang manajer yang baik yang seharusnya menjadi bos dari sebuah hotel terbaik di Amerika.” Mungkin suatu hari saya akan membangunnya untuk Anda.” Petugas hotel itu tersenyum sambil memperhatikan pasangan itu lalu ketiga orang itu tertawa.

Orang tua itu terkesan dengan keramahan dan pelayanan orang muda itu, ia berpikir adalah sulit mendapatkan orang yang bersahabat dan mau melayani dengan tulus.

Dua tahun kemudian. Petugas itu hampir melupakan kejadian itu sampai ia menerima sepucuk surat dari orang tua itu. Isi surat mengingatkannya saat malam hujan deras penuh halilintar dan terlampir sebuah tiket pesawat pulang pergi (round trip ticket) ke New York, dan meminta anak muda itu mengunjunginya.

Orang tua itu menemuinya di New York dan membawanya ke ujung jalan Fifth Avenue dan 34th Street. Ia menunjuk kearah sebuah gedung baru berwarna merah dengan menara kecil dan menara pengawas menjulang ke langit. “Itulah hotel yang Anda akan kelola.” Kata orang tua itu. “Anda berguraukah?” sahut anak muda itu. “Saya dapat memastikan Andalah orangnya yang saya pilih untuk mengelola hotel itu.”

Nama orang tua itu adalah William Walkdorf Astor, dan Hotel itu bernama Waldorf-Astoria Hotel. Anak muda yang menjadi manager pertama adalah George C. Boldt.

Seorang hamba selalu mengerjakan semua pekerjaan sampai selesai. Pelayanan membuka pintu-pintu bagi tergenapinya janji-janji Tuhan atas hidup kita.

Saya mengamati, orang-orang yang semasa sekolah atau kuliahnya suka melayani dengan memberikan pinjaman catatan atau mengajari sahabat-sahabatnya, mereka biasanya mendapatkan kemudahan untuk masuk sekolah yang diinginkannya atau lebih cepat mendapatkan pekerjaan yang cocok baginya.

Pada saat Anda MELAYANI dengan hati seorang hamba, maka pada saat itu TERBUKALAH pintu gerbang menuju kebesaran bagi hidup Anda.

Marilah kita mengembangkan sikap hati seorang hamba….