Yeremia 29:11
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan- rancangan apa yang ada pada- Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

firman Tuhan memberikan kepada kita sebuah janji tentang hari depan yang penuh “harapan.” Mengapa hari depan yang “penuh harapan?” Mengapa bukan hari depan yang “penuh kekayaan harta melimpah?”

Alkitab menuliskan “hari depan penuh harapan.”
Dapatkah Anda bayangkan jika hidup Anda ini adalah tanpa harapan?
Ada begitu banyak orang bergelimang harta kekayaan namun hidupnya tanpa harapan, mereka merasa kosong, kuatir dan penuh ketakutan.

Sesungguhnya manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa memiliki pengharapan.
Kebutuhan utama manusia adalah memiliki pengharapan.
Sebab itu Tuhan memberikan janji kepada kita hari depan penuh harapan, bukan setengah harapan.

Abraham adalah contoh orang yang memiliki masa depan yang penuh harapan.
Alkitab berkata Abraham seorang yang tetap berharap sekali pun tidak ada dasar untuk berharap

Roma 4:18-22
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan:”Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” 19 Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira- kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. 20 Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, 21 dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. 22 Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.

Apa yang membuat Abraham tidak bimbang dan malahan imannya diperkuat?
Oleh karena Abraham suka memuliakan Allah. Abraham suka membesarkan dan memuji-memuji Allah. Allah itu besar, Allah itu ajaib, Allah itu setia, Allah itu panjang sabar dan berlimpah kasih-Nya.

Kebanyakan orang bukannya memuliakan Allah, justru mereka “memuliakan masalah dan kekurangan” mereka, saat mereka membesar-besarkan masalah dan kekurangan maka pada saat itulah ketakutan dan ketidakpercayaan akan semakin besar dalam hidup mereka.

Mereka selalu membicarakan berulang-ulang kepada setiap orang tentang masalahnya, penyakitnya, pergumulannya dan ketidakmampuannya. Sebaliknya pada saat kita memuliakan Allah, membesar-besarkan kasih dan kuasa-Nya, memuji-muji nama-Nya maka pada saat itu hadirat-Nya turun semakin kuat dalam hidup kita. Pada saat hadirat-Nya turun, maka pada saat itulah kuasa Allah akan bekerja untuk melakukan mujizat, memberikan damai sejahtera sukacita, dan memberikan kemenangan yang gilang gemilang.

Ketika tidak ada dasar untuk berharap, apakah kita mau tetap memuliakan Allah?
Tanda bukti mengasihi Allah adalah memuliakan Allah. Saat kita memuliakan Allah, Allah berkenan kepada kita. Pada saat Allah berkenan, Dia akan memberikan upah, berkat dan mujizat-Nya bagi kita.

Ibrani 11:6
“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh- sungguh mencari Dia.”

Tuhan Yesus memberkati